KOMPAS.com - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (8/6/2026) turut dirasakan hingga sebagian Sulawesi Utara. Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas tektonik di kawasan tersebut.
Peringatan dari Ahli Kebencanaan
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menegaskan bahwa gempa ini tidak boleh dipandang sebagai kejadian tunggal. Sebaliknya, ini adalah peringatan serius bagi negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia.
Menurut Daryono, ketika bangunan runtuh, laut bergerak tidak biasa, dan kepanikan menyebar di wilayah pesisir, yang sebenarnya terjadi adalah pelepasan sebagian energi besar yang telah lama tersimpan di bawah permukaan Bumi.
Alarm bagi Indonesia
"Bencana ini adalah alarm keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia," ujar Daryono dalam keterangan yang diterima Kompas.com pada Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan bahwa Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa besar serupa, mengingat posisi geologis yang rentan.
Dampak dan Respons
Gempa ini tidak hanya menyebabkan kerusakan di Filipina, tetapi juga memicu kekhawatiran di Indonesia, khususnya di Sulawesi Utara. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari otoritas setempat.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana dan edukasi publik mengenai langkah-langkah keselamatan saat terjadi gempa.



