Iran dan Israel mendeklarasikan penghentian sementara serangan setelah kedua negara saling menyerang untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata ditetapkan dua bulan lalu. Meskipun demikian, kedua pihak menegaskan siap membalas jika kembali diserang.
Harapan Mereda, namun Ketegangan Masih Ada
Perkembangan terbaru ini memunculkan harapan akan meredanya konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu gejolak ekonomi global. Namun, situasi di lapangan menunjukkan ketegangan masih jauh dari berakhir. Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, konflik telah mendorong kenaikan harga energi dunia dan meningkatkan biaya berbagai kebutuhan pokok. Upaya diplomatik untuk mengubah gencatan senjata – yang diumumkan pada April – menjadi kesepakatan damai permanen, hingga kini belum membuahkan hasil.
Presiden AS Donald Trump menyerukan penghentian segera pertempuran antara Israel dan Iran. Tak lama setelah itu, komando gabungan militer Iran mengumumkan penghentian operasi ofensifnya. Dalam pernyataannya, militer Iran memperingatkan bahwa setiap agresi dan tindakan permusuhan lebih lanjut dari Israel maupun sekutunya, termasuk di Lebanon selatan, akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras dan menghancurkan.
Pernyataan Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengisyaratkan bahwa serangan kali ini telah berakhir. Namun, ia menegaskan Israel akan merespons dengan tegas jika Iran kembali melancarkan serangan. "Jika Iran membuat kesalahan dan kembali menyerang kami, kami akan merespons dengan kekuatan," kata Netanyahu dalam sebuah rekaman pernyataan. Meski demikian, Netanyahu menegaskan operasi militer Israel terhadap kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon akan terus berlanjut.
Di tengah deeskalasi tersebut, serangan Israel di Lebanon masih berlangsung. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas, termasuk seorang anak asal Suriah, akibat serangan udara di desa Zefta. Delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Serangan terpisah di kota pesisir Tyre menewaskan lima orang dan melukai delapan lainnya, termasuk sejumlah anggota Palang Merah Lebanon.
Pencabutan Pembatasan Keamanan
Sebagai tanda meredanya ketegangan, Israel dan Iran mulai mencabut sejumlah pembatasan keamanan yang sebelumnya diberlakukan. Militer Israel mengumumkan sebagian besar sekolah yang ditutup akibat situasi keamanan akan kembali dibuka. Sementara itu, kantor berita resmi Iran, Mizan, melaporkan pembatasan wilayah udara untuk penerbangan sipil telah dicabut.
Namun, sejumlah sumber ketegangan masih bertahan. Iran tetap mempertahankan blokade ketat atas Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Ancaman gangguan terhadap jalur tersebut menjadi salah satu faktor utama lonjakan harga energi global dalam beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, Israel terus menggempur posisi Hizbullah di Lebanon dan memperluas operasi militernya di negara itu.
Upaya Diplomasi
Sejumlah negara di kawasan berupaya mencegah konflik kembali meluas. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan memberi ruang bagi upaya perdamaian. Menurut dua pejabat regional, Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar telah mendesak pemerintahan Trump untuk menekan Israel agar menghentikan serangan terhadap Iran dan Beirut. Pada saat yang sama, negara-negara tersebut juga meminta Iran menghentikan serangannya terhadap Israel.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, mengatakan Teheran dan Washington masih melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan damai. "Kami berharap kedua pihak dapat segera mencapai suatu kesimpulan," ujarnya setelah menghadiri sidang Dewan Keamanan PBB.



