Fenomena baru muncul di panggung politik India. Sebuah partai yang menamakan diri 'Partai Rakyat Kecoak' atau Cockroach Janta Party (CJP) berhasil menarik perhatian generasi muda dan mulai mengganggu dominasi partai-partai besar. Partai ini lahir dari respons satire atas komentar kontroversial seorang hakim agung India.
Asal-usul Partai Kecoak
Partai ini digagas oleh Abhijeet Dipke (30), lulusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston. Ide ini muncul sebagai reaksi atas pernyataan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, pada 15 Mei lalu. Dalam sidang terbuka, Kant menyebut kaum muda yang menganggur sebagai 'kecoak' dan 'parasit' yang menyerang sistem.
Dipke kemudian membuat lelucon tentang Partai Janta Kecoak ('janta' berarti rakyat dalam bahasa Hindi). Namun, lelucon ini berkembang menjadi gerakan massal di media sosial. Dalam situsnya, misi partai ini terdengar satir: 'Mengadakan pesta untuk anak muda yang terus-menerus disebut malas, selalu online, dan – baru-baru ini – kecoa. Itu saja. Itulah misinya. Selebihnya adalah satir.'
Reaksi dan Dampak
Meskipun Kant kemudian mengklarifikasi bahwa komentarnya hanya ditujukan pada pemilik gelar palsu, pernyataannya tetap memicu kemarahan Gen Z yang tengah menghadapi pengangguran, inflasi, dan perpecahan agama. Dipke memanfaatkan situasi ini dengan memposting di X: 'Bagaimana jika semua kecoa berkumpul?'
Dalam hitungan hari, Partai Kecoak mengumpulkan puluhan ribu pendaftar melalui Google Form, memicu tagar #MainBhiCockroach (Saya juga kecoak), dan mendapat dukungan dari politisi oposisi seperti Mahua Moitra dan Kirti Azad. Akun Instagram CJP bahkan melampaui 10 juta pengikut, mengungguli akun resmi partai berkuasa BJP yang memiliki 8,7 juta pengikut.
Simbol Kekecewaan Gen Z
Partai Kecoak menjadi simbol kekecewaan generasi muda India yang merasa tidak terwakili. Dengan populasi sekitar 50% berusia di bawah 30 tahun, partisipasi politik formal tetap rendah. Survei menunjukkan 29% anak muda India menghindari politik, sementara hanya 11% menjadi anggota partai.
Dipke menolak perbandingan dengan protes di Sri Lanka atau Nepal, namun mengakui frustrasi anak muda nyata. 'Gen Z telah menyerah pada partai tradisional dan ingin menciptakan wadah politik sendiri,' ujarnya. Partai Kecoak mengajak mereka yang 'lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja' untuk bergabung.
Tuntutan di Balik Humor
Di balik tampilan yang tidak rapi dan bahasa visual yang jenaka, Partai Kecoak memiliki tuntutan politik serius: akuntabilitas, reformasi media, transparansi pemilu, dan representasi perempuan yang lebih luas. Lelucon tentang scrolling tanpa henti dan pengangguran berhasil karena menyuarakan keprihatinan nyata.
'Saya pikir CJP baru permulaan,' kata Dipke. 'Anak muda sudah muak dengan sistem politik saat ini, dan lebih banyak organisasi anak muda akan bermunculan.'



