BNPP Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kesejahteraan Masyarakat Pesisir
BNPP Perkuat Kolaborasi untuk Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

BNPP RI Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor untuk Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Liputan6.com, Jakarta - Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Republik Indonesia terus menguatkan perannya sebagai koordinator utama dalam pengelolaan kawasan perbatasan dengan mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan potensi unggulan di wilayah perbatasan laut. Komitmen ini ditegaskan dalam Forum Pengelolaan Potensi Unggulan Kawasan Perbatasan Laut yang diselenggarakan pada Rabu, 8 April 2026.

Forum Strategis untuk Sinergi Pemangku Kepentingan

Asisten Deputi Pengelolaan Kawasan Perbatasan Laut BNPP RI, Yedi Rahmat, yang mewakili Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan, Irjen Pol. Edfrie R. Maith, menyatakan bahwa forum ini dirancang sebagai wadah strategis untuk menyinergikan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya adalah mengoptimalkan potensi unggulan kawasan perbatasan laut, tidak hanya di sektor kelautan dan perikanan, tetapi juga sektor-sektor lainnya yang mendukung pembangunan nasional.

"Forum ini kami rancang untuk memfasilitasi pengembangan potensi unggulan kawasan perbatasan laut secara terintegrasi. Kami tidak hanya berbicara tentang sumber daya laut dan perikanan, tetapi juga bagaimana potensi tersebut dikelola secara kolaboratif agar berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujar Yedi Rahmat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ia menegaskan bahwa BNPP RI memiliki peran strategis dalam memastikan pengelolaan kawasan perbatasan sejalan dengan agenda pembangunan nasional. Optimalisasi potensi unggulan di wilayah perbatasan laut harus dilakukan melalui pendekatan lintas sektor dan lintas wilayah untuk memastikan manfaat yang berkelanjutan.

Potensi Pariwisata dan Dukungan Digital

Forum tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang memaparkan peluang dan tantangan pengembangan potensi unggulan. Dari sektor pariwisata, perwakilan Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Yusuf Hartanto, menekankan bahwa pariwisata laut dan kawasan perbatasan menjadi fokus utama program prioritas Kementerian Pariwisata periode 2025–2026.

"Pariwisata berkualitas menjadi program unggulan Kementerian Pariwisata. Salah satu fokusnya adalah peningkatan keselamatan berwisata, baik di wilayah laut maupun darat, termasuk di kawasan perbatasan yang memiliki potensi sangat besar," jelas Yusuf.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui program upskilling dan reskilling untuk mendukung kesiapsiagaan dan profesionalitas pengelolaan destinasi wisata. Selain itu, pengembangan desa wisata dan transformasi digital pariwisata melalui konsep Tourist 5.0 dinilai sebagai keharusan. Kementerian Pariwisata telah menyiapkan platform digital seperti Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (Sisparnas) dan Jejaring Desa Wisata (Jadesta) yang dapat dimanfaatkan daerah perbatasan untuk memperluas promosi dan jejaring pariwisata.

Perspektif Daerah dan Kolaborasi Pendukung

Dari perspektif daerah, Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Nunukan, Yance, memaparkan potensi wisata laut di wilayah perbatasan, khususnya di Pulau Sebatik. Ia menyebutkan destinasi seperti Pantai Batu Lamampu dan Karang Unarang yang berhadapan langsung dengan negara tetangga dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata minat khusus.

"Karang Unarang memiliki potensi wisata mancing yang kuat. Di sana sudah ada bagan yang sekaligus menjadi pilar keamanan. Ini bisa dikembangkan menjadi daya tarik wisata, tentu dengan dukungan infrastruktur dan perencanaan yang matang," kata Yance.

Sementara itu, Asisten Deputi Penataan Ruang Kawasan Perbatasan BNPP RI, Ismawan Harijono, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata di kawasan perbatasan tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai kegiatan pendukung, seperti penyelenggaraan event dan pameran berskala nasional maupun internasional.

"PLBN memiliki potensi besar sebagai simpul kegiatan. Di PLBN Badau, misalnya, potensi ikan arwana bisa dikembangkan menjadi event pariwisata tematik yang menarik wisatawan mancanegara," ujarnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Dukungan Perdagangan dan Kelautan

Dari sisi perdagangan, perwakilan Kementerian Perdagangan menyampaikan bahwa penguatan kapasitas SDM pelaku usaha di kawasan perbatasan dapat difasilitasi melalui pelatihan ekspor-impor, baik secara daring maupun melalui pusat pelatihan khusus. Ia juga menekankan pentingnya sertifikasi produk, termasuk sertifikat sanitari, fitosanitari, dan halal, untuk mendorong UMKM perbatasan agar mampu menembus pasar ekspor.

Pada sektor kelautan dan perikanan, Direktorat Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, melalui Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data dan Informasi Kenelayanan, Ilham, menegaskan bahwa Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di wilayah perbatasan menjadi langkah strategis untuk mendorong transformasi kesejahteraan nelayan.

Ia memaparkan capaian signifikan di Kampung Nelayan Merah Putih Samber Binyeri, di mana pendapatan nelayan meningkat hingga 78 persen, disertai lonjakan produksi dan penjualan ikan. "Peningkatan ini tidak lepas dari dukungan infrastruktur seperti pabrik es dan cold storage, yang memungkinkan nelayan melaut lebih lama dan menjaga kualitas hasil tangkapan," jelas Ilham.

Menurutnya, tantangan utama yang masih dihadapi adalah keterbatasan kapasitas SDM nelayan, akses permodalan, serta infrastruktur pendukung. Oleh sebab itu, program KNMP membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, dengan BNPP RI sebagai mitra strategis dalam pengelolaan kawasan perbatasan.

Komitmen Berkelanjutan untuk Pertumbuhan Ekonomi

Melalui forum ini, BNPP RI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dan sinergi lintas sektor dalam pengelolaan kawasan perbatasan laut. Dengan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat, BNPP RI optimistis potensi unggulan kawasan perbatasan laut dapat dioptimalkan secara berkelanjutan sebagai motor pertumbuhan ekonomi sekaligus penguat kesejahteraan masyarakat di beranda depan negara.