Satgas PRR Percepat Rehabilitasi Tambak dan Keramba untuk Pulihkan Ekonomi Pascabencana
Satgas PRR Percepat Rehabilitasi Tambak dan Keramba

Satgas PRR Percepat Rehabilitasi Tambak dan Keramba untuk Pulihkan Ekonomi Masyarakat

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pemulihan sektor ekonomi masyarakat, dengan fokus utama pada rehabilitasi tambak dan keramba yang terdampak bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk memulihkan perekonomian, terutama di kawasan pesisir yang bergantung pada sektor perikanan budidaya.

Data Kerusakan Tambak dan Keramba

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), total lahan tambak yang terdampak bencana mencapai 31.248,94 hektare di tiga provinsi tersebut. Rinciannya, Provinsi Aceh menjadi wilayah terdampak terbesar dengan luas 30.417,17 hektare, disusul Sumatera Utara seluas 575,27 hektare, dan Sumatera Barat seluas 255,90 hektare.

Selain itu, sebanyak 2.053 unit keramba juga turut terdampak, dengan sebaran terbesar berada di Aceh sebanyak 1.953 unit, kemudian Sumatera Barat 60 unit, dan Sumatera Utara 40 unit. Besarnya dampak ini menjadikan sektor perikanan budidaya sebagai salah satu prioritas utama dalam pemulihan pascabencana, mengingat perannya sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan dari Ketua Satgas PRR

Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pihaknya telah memasukkan revitalisasi tambak dalam agenda prioritas pemulihan. “Tambak ada yang terdampak, seperti udang dan bandeng, terutama di wilayah pesisir Aceh. Saat ini sedang didata oleh Menteri KKP dan setelah Lebaran akan ditinjau langsung untuk percepatan penanganannya,” ujar Tito di Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan bahwa pemulihan sektor pertambakan tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik lahan, tetapi juga memastikan aktivitas produksi dan rantai ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan dengan lancar. Hal ini bertujuan untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan warga yang terdampak.

Langkah Revitalisasi dari KKP

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi tambak budidaya yang terdampak bencana dan akan segera melakukan langkah rehabilitasi. Tambak dan keramba tersebut meliputi berbagai komoditas, seperti udang, bandeng, kakap, kerapu, lele, nila, mas, serta patin.

“Revitalisasi tambak menjadi prioritas agar produksi perikanan budidaya bisa segera pulih dan masyarakat kembali berusaha,” ujar Trenggono. Dalam proses percepatan ini, pemerintah juga mengandalkan pendataan berbasis by name by address (BNBA) dari pemerintah daerah.

Peran Pendataan dalam Proses Pemulihan

Hingga saat ini, sebagian besar kabupaten dan kota telah menyampaikan data kerusakan, meskipun masih terdapat beberapa daerah yang perlu mempercepat pelaporan agar proses revitalisasi dapat dilakukan secara optimal. Pendataan yang akurat dan cepat diharapkan dapat mendukung upaya pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana dengan lebih efektif.

Dengan langkah-langkah ini, Satgas PRR berkomitmen untuk tidak hanya memulihkan infrastruktur, tetapi juga mengembalikan kehidupan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera, khususnya melalui sektor perikanan budidaya yang vital.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga