KOMPAS.com - Siapa sangka seekor lalat kecil bisa mengancam isi dompet Anda saat membeli daging sapi? Seperti yang terjadi di Texas, Amerika Serikat, gara-gara serangan lalat bisa membuat harga daging melonjak naik.
Wabah Lalat Sekrup di Texas
Daerah perbatasan Amerika Serikat ini sedang mengalami wabah screwworm atau lalat sekrup yang larvanya memakan daging ternak hidup-hidup. Departemen Pertanian Amerika Serikat, United States Department of Agriculture (USDA) memperkirakan wabah ulat sekrup ini bisa merugikan ekonomi Texas hingga 1,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 29,4 triliun rupiah akibat kematian hewan ternak, pembengkakan biaya tenaga kerja, dan pengeluaran medis.
Lalat sekrup betina bertelur pada luka terbuka hewan ternak. Setelah menetas, larva atau belatung akan menggali ke dalam daging dan memakan jaringan hidup. Infeksi ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Peternak terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk pengobatan dan pencegahan, termasuk insektisida dan pemantauan ketat.
Dampak Ekonomi dan Harga Daging
USDA mencatat bahwa wabah ini tidak hanya mengancam kesejahteraan hewan tetapi juga stabilitas pasokan daging sapi. Dengan berkurangnya populasi ternak, harga daging sapi di pasar diperkirakan akan naik secara signifikan. Kerugian ekonomi mencakup biaya tenaga kerja tambahan untuk merawat hewan yang terinfeksi, serta pengeluaran medis untuk vaksinasi dan pengobatan.
Para peternak di Texas kini waspada dan menerapkan langkah-langkah karantina untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Pemerintah setempat bekerja sama dengan USDA untuk mengendalikan wabah dan meminimalkan dampak ekonomi.
Wabah lalat sekrup ini menjadi pengingat bahwa ancaman kecil seperti serangga dapat berdampak besar pada sektor pertanian dan ekonomi secara keseluruhan. Konsumen pun harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga daging sapi dalam waktu dekat.



