Liputan6.com, Jakarta - Aroma gudeg langsung tercium begitu memasuki warung milik Marjono (60) di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Di tempat itulah, pria asal Yogyakarta itu menjalankan usaha Gudeg Bu Sri yang sudah bertahan lebih dari dua dekade. Marjono mulai merintis usaha tersebut pada 2002, tidak lama setelah memutuskan merantau ke Cileungsi. Sebelum membuka usaha sendiri, dia sempat bekerja di Yogyakarta. Namun setelah berhenti bekerja, dia memilih mencoba peruntungan di tanah rantau.
Perjalanan Usaha Gudeg Bu Sri
Berbeda dengan banyak perantau lain yang berpindah-pindah tempat, Marjono mengaku langsung menetap di Cileungsi sejak pertama datang. Di tempat itu pula dia mulai membangun usaha gudeg yang kini dikenal pelanggan tetapnya. Namun perjalanan usaha tidak langsung berjalan mulus. Pada awal berjualan, warungnya belum banyak dikenal orang. Menurutnya, butuh waktu sekitar satu tahun lebih hingga pelanggan mulai berdatangan dan usaha perlahan berkembang. "Setahunan baru mulai ada peningkatan," ujarnya. Hingga kini, usaha Gudeg Bu Sri masih dijalankan bersama keluarga. Marjono dibantu istri dan anak-anaknya dalam mengelola usaha sehari-hari.
Adopsi QRIS BRI Sejak 2020
Meski mempertahankan konsep usaha rumahan, Marjono mulai mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital. Sejak sekitar 2020, dia mulai menggunakan layanan QRIS dari BRI untuk memudahkan transaksi pelanggan. Menurutnya, penggunaan QRIS bermula ketika petugas BRI datang langsung menawarkan layanan tersebut ke tempat usahanya. "Yang nawarin waktu itu BRI," katanya. Proses pendaftaran QRIS tidak memakan waktu terlalu lama. Setelah pengajuan dilakukan, sekitar satu minggu kemudian QRIS sudah bisa digunakan di warungnya. Meski begitu, dia mengaku sebagian besar pelanggan masih menggunakan pembayaran tunai. Namun dia merasa keberadaan QRIS menjadi lebih praktis, terutama bagi pembeli yang tidak lagi membawa uang tunai. Menurut Marjono, pembayaran digital cukup penting bagi pelaku UMKM seperti dirinya karena memudahkan proses transaksi sehari-hari. "Memudahkan segala sesuatunya," ujarnya. Meski begitu, dia menilai penggunaan QRIS tidak terlalu memengaruhi peningkatan pendapatan secara langsung. Menurutnya, jumlah pembeli tetap lebih ditentukan oleh pelanggan tetap dan kualitas usaha yang sudah berjalan selama ini.
Manfaatkan KUR BRI untuk Pengembangan Usaha
Di sisi lain, Marjono juga pernah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk membantu pengembangan usaha. Dia mengaku sudah dua kali mengajukan KUR, pertama kali sekitar awal usaha berjalan. Dana pinjaman tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan usaha, mulai dari tambahan modal hingga kebutuhan lain seperti membeli rumah. "Buat muter usaha, beli bahan, macam-macam," ucapnya.
Kurangi Risiko Uang Palsu
Selama lebih dari dua dekade berjualan, Marjono mengaku pernah beberapa kali menerima uang palsu dari pembeli. Kejadian itu biasanya terjadi saat kondisi warung sedang ramai sehingga transaksi berlangsung cepat dan sulit diperiksa satu per satu. "Kalau nggak salah sekitar enam kali pernah kejadian," ujar Marjono. Menurutnya, uang palsu yang paling sering ditemukan pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu. Kini, dia sudah mengingatkan anak-anaknya yang ikut membantu di warung agar lebih teliti saat menerima pembayaran tunai. "Sekarang anak-anak sudah tahu cirinya," katanya. Marjono menduga sebagian kasus memang dilakukan sengaja dengan memanfaatkan situasi ramai pembeli. Karena itu, keberadaan pembayaran digital seperti QRIS dianggap cukup membantu mengurangi risiko tersebut. "Kalau QRIS memang bisa mengurangi risiko uang palsu," ucapnya. Meski demikian, penggunaan QRIS juga tidak selalu berjalan mulus. Marjono pernah mengalami kerusakan pada sistem pembayaran sehingga QRIS tidak bisa digunakan dalam waktu cukup lama. "Waktu itu hampir sebulan baru bisa lagi," katanya. Kondisi tersebut cukup merepotkan karena sebagian pelanggan sudah terbiasa membayar secara digital. Sebagai alternatif, pelanggan biasanya diminta melakukan transfer langsung ke rekening jika QRIS sedang bermasalah.
Pelanggan dari Berbagai Daerah
Sebagian pelanggan Gudeg Bu Sri bahkan datang dari luar wilayah Cileungsi. Ada pelanggan tetap dari Bekasi hingga Jakarta yang tetap memesan saat sedang berada di sekitar kawasan tersebut. "Banyak yang dari jauh juga, ada yang dari Bantar Gebang, Jakarta," ujar Marjono. Tidak sedikit pelanggan yang menyarankan agar warungnya bergabung ke layanan pesan antar seperti GoFood atau ShopeeFood. Namun hingga kini Marjono masih memilih menjalankan usaha secara sederhana karena merasa sistem aplikasi makanan online masih cukup merepotkan untuk dikelola sendiri. Sebagai gantinya, beberapa pelanggan biasanya menggunakan jasa ojek online secara mandiri untuk mengambil pesanan dari warungnya. "Kalau mau pesan biasanya mereka sendiri yang panggil grab atau ojek online," katanya.
QRIS BRI Kian Diminati UMKM Cileungsi
Penggunaan pembayaran digital melalui QRIS di kalangan pelaku UMKM di wilayah Cileungsi terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kepala BRI Unit Cileungsi, Luki Perdana mengatakan, peningkatan tersebut terjadi seiring semakin banyaknya pelaku usaha yang mulai menyesuaikan diri dengan kebiasaan transaksi masyarakat saat ini. Menurut Luki, salah satu strategi yang dilakukan BRI adalah mengintegrasikan layanan QRIS kepada nasabah penerima pinjaman usaha. Hampir seluruh nasabah UMKM yang mendapatkan pembiayaan dari BRI kini langsung didaftarkan untuk menggunakan QRIS. "Setiap nasabah yang realisasi pinjaman di BRI sekarang langsung dibikinkan QRIS. Setelah cair, biasanya dua sampai tiga hari sudah jadi lalu ditempel di tempat usahanya," ujar Luki. Namun kebijakan itu tidak berlaku untuk seluruh jenis usaha. Untuk usaha seperti kontrakan misalnya, penggunaan QRIS dinilai belum terlalu relevan. Sementara untuk usaha perdagangan seperti warung, toko, dan kuliner, penggunaan QRIS terus didorong. Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perubahan pola transaksi masyarakat yang kini semakin mengandalkan telepon genggam dibanding uang tunai. "Sekarang orang ke mana-mana jarang bawa cash, lebih sering bawa handphone. Jadi saat mau bayar biasanya langsung tanya ada QRIS atau tidak," katanya. Luki menilai keberadaan QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membantu pelaku UMKM mempertahankan peluang penjualan. Sebab, tidak sedikit konsumen yang akhirnya batal bertransaksi ketika penjual belum menyediakan pembayaran digital. "Kalau ada QRIS, orang jadi tetap bisa belanja walaupun nggak bawa uang tunai," ucapnya. Selain mempermudah transaksi, penggunaan QRIS juga dinilai membantu pelaku usaha mengurangi risiko menerima uang palsu. Menurut Luki, transaksi digital membuat proses pembayaran lebih aman sekaligus memudahkan pencatatan keuangan usaha. "Kalau pakai QRIS, pelaku usaha tinggal lihat transaksi yang masuk lewat aplikasi. Jadi nggak perlu catat manual lagi," katanya.
Pendampingan dan Tantangan Adaptasi
Untuk mendukung penggunaan QRIS, BRI juga melakukan pendampingan secara langsung kepada para pelaku UMKM. Setelah QRIS aktif, petugas lapangan atau mantri akan mendatangi tempat usaha untuk memberikan edukasi penggunaan aplikasi BRI Merchant serta cara memantau transaksi. "Pendampingan tetap dilakukan. Kita ajarin cara transaksi, cara cek uang masuk, sampai penggunaan aplikasi merchant," ujar Luki. BRI juga secara rutin memantau QRIS yang dinilai tidak aktif atau kurang produktif. Jika transaksi dinilai rendah, petugas akan datang kembali untuk mencari tahu kendala yang dihadapi pelaku usaha. Menurut Luki, kendala yang paling sering muncul adalah soal pencairan dana yang tidak langsung masuk ke rekening seperti transfer biasa. Banyak pelaku UMKM yang belum memahami sistem pencairan QRIS yang berjalan berdasarkan jadwal tertentu atau batch transaksi. "Mereka sering bingung karena notifikasi transaksi sudah masuk, tapi uangnya belum ada di rekening. Padahal sistem QRIS itu pencairannya per batch," jelasnya. Selain itu, masih ada pelaku usaha yang mengalami kendala karena sebelumnya pernah memiliki QRIS dari bank lain dengan nama usaha yang sama. Akibatnya, dana transaksi terkadang tetap masuk ke rekening lama. Di lapangan, BRI juga masih menghadapi tantangan adaptasi digital, terutama dari pelaku usaha tradisional yang belum terbiasa menggunakan teknologi. Sebagian di antaranya masih kesulitan memahami aplikasi digital atau menggunakan telepon genggam yang belum mendukung. "Penolakan ada saja, terutama karena faktor usia atau belum terbiasa dengan sistem digital," ujar Luki. Meski begitu, BRI menilai perkembangan penggunaan QRIS di wilayah Cileungsi sudah cukup baik. Hingga April 2026, target penggunaan QRIS yang ditetapkan kantor pusat disebut telah tercapai. "Untuk target QRIS, saat ini sudah sesuai target," kata Luki.



