Analisis Pemberitaan Media Israel Soal Perang Melawan Iran
Analisis Pemberitaan Media Israel Soal Perang Iran

Bagaimana Media Massa Israel Membingkai Perang Melawan Iran?

Media domestik Israel secara konsisten menampilkan bendera Israel dan Amerika Serikat berdampingan selama liputan berita terkait konflik dengan Iran. Visual ini tidak hanya sekadar hiasan, tetapi menegaskan koordinasi erat antara kedua negara sekutu tersebut.

Pesan yang Terus Diulang dan Meresap ke Kesadaran Publik

Pesan bahwa Iran "harus dihentikan" atau Israel akan menghadapi kehancuran secara perlahan telah meresap ke dalam kesadaran kolektif masyarakat Israel. Pada program "Patriots" di Channel 14 Israel tanggal 24 Maret 2026, stasiun televisi yang dikenal sebagai pendukung kuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menayangkan rangkaian video ledakan dan serangan udara.

Cuplikan tersebut dipadukan dengan klaim kemenangan dari Netanyahu dan mantan Presiden AS Donald Trump, lengkap dengan latar musik dramatis bernuansa militer. Di layar televisi, Channel 14 menampilkan slogan-slogan perang seperti "Kami akan menang" dan "Dengan pertolongan Tuhan", berdampingan dengan bendera Israel.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pola Liputan yang Mirip dengan Konflik Gaza

Gaya pemberitaan seperti ini mengingatkan pada pola liputan media selama konflik di Gaza selama dua tahun terakhir. Terkait Gaza, media massa di Israel menekankan pesan tentang:

  • Persatuan nasional
  • Ketahanan kolektif
  • Dukungan penuh terhadap militer Israel

Namun seiring berjalannya waktu, sejumlah media mulai mempertanyakan kapasitas pemerintah dalam mengambil keputusan, terutama terkait nasib para sandera Israel. Kritik tersebut terus muncul dalam pemberitaan, meskipun media massa Israel tetap tidak menayangkan gambar maupun narasi mengenai penderitaan warga Palestina.

Channel 14: Fox News Versi Israel

Channel 14 kerap disebut sebagai "Fox News versi Israel". Suasana siarannya menggambarkan gambaran media arus utama, sebulan setelah perang dengan Iran dimulai. Siarannya penuh semangat patriotik, minim kritik, dan sepenuhnya sejalan dengan pesan resmi pemerintah.

Sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, stasiun televisi di seluruh spektrum politik Israel rutin menampilkan slogan-slogan perang di layar, berdampingan dengan bendera Israel dan AS.

Retorika Ancaman Eksistensial dari Iran

Media-media Israel secara konsisten mengulang retorika Benjamin Netanyahu bahwa Iran merupakan ancaman eksistensial bagi negara itu. Dalam pemberitaan, Iran kerap digambarkan sebagai "kepala ular" atau "kepala gurita" yang mengendalikan dan membiayai jaringan kelompok proksi di kawasan.

Kerangka narasi semacam ini telah dipelihara selama puluhan tahun. Selama hampir tiga dekade, Netanyahu berulang kali memusatkan pidatonya pada ancaman Iran, memperingatkan forum internasional tentang program nuklir Teheran.

Apa yang Tidak Diceritakan Media Israel kepada Warga?

Meski pada awalnya media Israel sempat menunjukkan solidaritas terhadap para demonstran di Iran, liputan mengenai korban jiwa maupun kerusakan di Iran praktis menghilang begitu operasi militer dimulai. Seusai perang 12 hari tahun 2025, deklarasi Benjamin Netanyahu bahwa Israel telah meraih "kemenangan bersejarah" jarang sekali dibahas kembali.

Namun kurang dari sembilan bulan kemudian, Israel sudah meluncurkan kampanye militer baru. Pemberitaan media sebagian besar menghindari pembahasan mengenai rasionalitas strategi di balik serangan terbaru ini. Klaim pemerintah mengenai "ancaman yang segera terjadi" diterima begitu saja, tanpa diuji secara kritis.

Sensor Ketat dan Pembatasan Liputan

Salah satu ciri mencolok dalam liputan perang melawan Iran adalah penerapan sensor ketat terkait lokasi jatuhnya misil di Israel dan seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan. Selama perang Juni lalu, para menteri kabinet menuduh media internasional "membantu musuh", yang kemudian memicu massa mendatangi lokasi serangan dan menghalangi wartawan non-Israel meliput dari lapangan.

Majalah Israel-Palestina +972 mendokumentasikan insiden di mana relawan sipil di dekat Tel Aviv memeriksa identitas para jurnalis, meskipun mereka sudah memegang izin resmi dari kepolisian Israel.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Hampir Tidak Ada Suara Kritis di Media Arus Utama

Di Israel, dukungan publik terhadap perang sangat kuat. Survei yang dirilis Institut Demokrasi Israel menunjukkan bahwa 93% warga mendukung operasi militer pada hari-hari pertama, dan persentase itu hampir tidak berubah dua pekan kemudian.

Di luar kritik dari surat kabar Haaretz yang dikenal mengambil posisi politik kiri dan sikap editorialnya yang vokal, nyaris tidak ada suara penolakan yang muncul di media arus utama. Dalam sebuah kemunculan yang jarang, jurnalis investigasi terkemuka Ilana Dayan berbicara di Channel 12, menyoroti kasus tewasnya pasangan lansia akibat serangan roket.

Maraknya Video Palsu dan Misinformasi

Perang ini juga dibarengi maraknya peredaran video palsu, banyak di antaranya dibagikan oleh akun-akun dari Iran yang mengklaim menunjukkan kehancuran di Tel Aviv akibat serangan roket. Sebagian konten dibuat menggunakan kecerdasan buatan, sementara lainnya merupakan rekaman lama dari Gaza atau konflik sebelumnya yang diunggah ulang.

Media Israel pun tidak lepas dari penyebaran konten keliru. Setelah Ali Khamenei dibunuh militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu, Channel 14 menayangkan sebuah video yang tampak memperlihatkan orang-orang Iran meneriakkan "Bibi Joon", panggilan sayang untuk Perdana Menteri Netanyahu.

Kesimpulan: Media sebagai Penggerak Opini Publik

Dalam situasi di mana media Israel berperan sebagai penggerak opini publik tanpa ada upaya serius mempertanyakan pesan resmi atau melaporkan skala kerusakan yang terjadi baik di Israel maupun Iran, misinformasi justru memperkuat anggapan bahwa Iran adalah ancaman eksistensial dan bahwa Israel berada di jalur "kemenangan besar".