FIFA Jauhkan Politik dari Piala Dunia 2026, Mussolini Jadikan Sepak Bola Propaganda
FIFA Jauhkan Politik dari Piala Dunia 2026, Mussolini Propaganda

FIFA, sebagai federasi sepak bola dunia, terus berupaya menjaga agar sepak bola tidak terbawa arus politik, termasuk dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Namun, langkah ini menuai kritik tajam ketika FIFA membiarkan Amerika Serikat, sebagai salah satu tuan rumah, melakukan praktik diskriminasi politik. Dua contoh nyata adalah wasit asal Somalia, Omar Artan, dan tim nasional Iran yang menjadi korban diskriminasi oleh kebijakan AS.

Kritik terhadap FIFA dan Diskriminasi AS

FIFA mendapat tekanan karena dianggap tidak konsisten. Di satu sisi, mereka ingin sepak bola bebas politik, tetapi di sisi lain, mereka membiarkan diskriminasi terjadi. Wasit Omar Artan dilaporkan mengalami perlakuan tidak adil saat memasuki wilayah AS, sementara tim nasional Iran menghadapi hambatan administratif yang bersifat politis. Banyak pihak menilai FIFA seharusnya lebih tegas menegakkan prinsip anti-diskriminasi.

Pendekatan Berbeda: Mussolini dan Propaganda Sepak Bola

Kontras dengan sikap FIFA, diktator Italia Benito Mussolini pada era 1930-an justru memanfaatkan sepak bola sebagai alat politik dan propaganda. Mussolini melihat Piala Dunia sebagai momentum emas untuk menyebarkan ideologi fasisme. Ia tidak hanya menggunakan tim nasional Italia untuk meraih kemenangan, tetapi juga mengendalikan narasi pertandingan demi kepentingan politik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada Piala Dunia 1934 yang digelar di Italia, Mussolini memanfaatkan turnamen tersebut untuk menunjukkan superioritas Italia di bawah rezim fasis. Tim nasional Italia dilatih dengan disiplin militer dan kemenangan mereka dipromosikan sebagai bukti kehebatan fasisme. Bahkan, wasit dan pertandingan kerap dimanipulasi untuk memastikan Italia melaju hingga final.

Dampak Propaganda Mussolini pada Sepak Bola

Langkah Mussolini meninggalkan jejak kelam dalam sejarah sepak bola. Sepak bola menjadi alat legitimasi rezim otoriter, dan hal ini memicu perdebatan etis yang berlangsung hingga kini. Berbeda dengan FIFA yang berusaha steril dari politik, Mussolini justru mencampuradukkan olahraga dengan ideologi, menjadikannya contoh ekstrem politisasi sepak bola.

Kritikus menilai bahwa upaya FIFA menjauhkan politik dari sepak bola seringkali tidak konsisten, terutama ketika berhadapan dengan negara-negara besar seperti AS. Sementara itu, sejarah menunjukkan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar lepas dari politik, seperti yang dibuktikan oleh Mussolini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga