Keputusan Rifki Hakim untuk meninggalkan peluang emas menuju puncak karier sebagai kepala sekolah di sekolah reguler demi memimpin Sekolah Rakyat menunjukkan keyakinan bahwa memajukan pendidikan bukan sekadar soal status atau jabatan. Dengan bangga, Rifki memberanikan diri keluar dari zona nyaman.
Profil Rifki Hakim
Ramah dan murah senyum terpancar dari kepribadian Rifki Hakim. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini selalu menyapa hingga berbincang dengan beberapa murid. Melihat kehadiran Rifki di lapangan upacara, murid-murid langsung menghampiri dan menyalaminya dengan penuh hormat.
Dilema Besar dalam Hidup
Keputusan Rifki bergabung di Sekolah Rakyat bukanlah hal mudah. Ia sempat merasa ragu dan dilema karena dihadapkan pada pilihan menjadi kepala sekolah di sekolah gratis berasrama gagasan Presiden Prabowo Subianto atau menjadi kepala di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.
Rifki mengungkapkan, awalnya ia mendapatkan informasi melalui sambungan telepon dari Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan bahwa namanya masuk dalam daftar 35 calon Kepala Sekolah Rakyat. Kemudian, ia mengumpulkan berkas dan mengikuti proses seleksi, mulai dari wawancara, psikotes, hingga tes Bahasa Inggris TOEFL. Pria kelahiran Banjarnegara ini pun menjadi salah satu calon yang lolos dan mengikuti retret di Jakarta. Namun, setelah dipanggil untuk menghadiri retret, ia juga menerima panggilan untuk melengkapi berkas administrasi menjadi calon kepala sekolah di salah satu sekolah reguler di Kalimantan Selatan.
"Ada dilema di situ. Ada dilema yang membuat saya agak ragu-ragu (menjadi Kepala Sekolah Rakyat)," kata Rifki.
Dilema juga datang dari keluarga Rifki, termasuk ibunya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dari orangtua yang dulunya berprofesi sebagai guru. Bahkan, jabatan terakhir ibunya adalah kepala sekolah. Selain itu, banyak kolega mempertanyakan keputusan Rifki berkarier di Sekolah Rakyat karena status sekolah berasrama tersebut dinilai belum jelas.
Keyakinan yang Menguat
Kepastian hadir saat ia mengikuti retret karena ia mendapatkan penjelasan tentang tujuan dan sasaran dari Sekolah Rakyat secara gamblang. Program pendidikan yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini menyasar anak-anak miskin dan miskin ekstrem di seluruh Indonesia untuk memiliki kesempatan bersekolah secara gratis dan mengentaskan kemiskinan. Akhirnya, restu untuk mengemban tugas mulia itu hadir dari sang ibu dan sang istri. Ia pun makin mantap keluar dari zona nyamannya.
"Saya terus terang, sekarang bukan lagi memikirkan karier, ini loh anak-anak sudah dititipkan ke saya, jadi sudah merasa ini tanggung jawab saya, dan saya harus membawa mereka sampai benar-benar jadi orang," jelas Rifki.
Rifki juga ingat betul pesan Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat membuka retret Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta beberapa waktu lalu, yakni kepala sekolah berperan menyalakan lilin bagi orang-orang yang sudah hampir menyerah. Hal inilah yang menyentuh hatinya dan ia pegang sebagai kunci untuk memantapkan diri bergabung di Sekolah Rakyat hingga melepaskan peluang besar menempati puncak karir sebagai kepala sekolah di sekolah reguler.
"Jadi, kalau saya sudah menyatakan untuk terjun di sini, berjuang sekuat semampu saya, tujuannya apa? Membantu Pak Presiden memutus rantai kemiskinan yang ada di Indonesia. Kalau memang insya Allah ini jalan yang benar, tidak mungkin saya tersia-siakan. Insya Allah seperti itu," ujarnya.
Kondisi SRT 9 Banjarbaru
SRT 9 Banjarbaru mengampu dua jenjang pendidikan, yakni sekolah menengah pertama (SMP) dan menengah atas (SMA) dengan total 125 siswa. Sebanyak 75 orang merupakan murid SMA yang terbagi dalam tiga rombongan belajar (rombel). Sementara itu, jumlah siswa SMP mencapai 50 orang yang terdiri dari dua rombel.
Para murid hadir dengan berbagai latar belakang yang berbeda, seperti putus sekolah hingga lingkungan yang menuntut mereka untuk bekerja saat usia mereka seharusnya diisi dengan bermain dan fokus menimba ilmu. Oleh karena itu, anak-anak yang bersekolah di SRT 9 Banjarbaru hadir dengan membawa karakter masing-masing. Salah satu contohnya, ungkap Rifki, masih minimnya sopan santun maupun tata krama murid. Ia pun menekankan pentingnya kesabaran terhadap para guru dan tenaga kependidikan di sekolah ini dalam mengubah serta membangun karakter siswa serta kedisiplinan yang lebih baik lagi.
"Makanya kalau saya sebagai kepala sekolah di sini menekankan kesabaran. Jadi kunci dari semua keberhasilan adalah kesabaran," kata Rifki.
Setelah hampir dua bulan berkarya di SRT 9 Banjarbaru, ia mencermati secara perlahan mulai terlihat perubahan yang cukup signifikan dari murid-murid. Anak-anak yang dulunya cenderung acuh, mulai lebih peduli terhadap lingkungan maupun orang-orang di sekitar mereka. Murid-murid juga kini lebih menghormati orang yang lebih tua. Sikap itu ditunjukkan dengan cara menyapa hingga berjabat tangan saat ada orang yang lewat di lingkungan sekolah.
Harapan untuk Sekolah Rakyat
Di mata Rifki, Sekolah Rakyat menjadi sebuah terobosan dan ide baru dalam memutus mata rantai kemiskinan. Ia menyebut, konsep sekolah berasrama dan gratis ini merupakan cara yang tepat untuk memuliakan orang-orang miskin dengan memberikan bekal pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Rifki pun berharap pemerintah tidak hanya fokus pada kuantitas atau menambah jumlah Sekolah Rakyat di berbagai daerah, tetapi juga peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat yang saat ini sudah beroperasi. Dari ruang-ruang belajar sederhana, Rifki membuktikan bahwa dedikasi dan keberanian mengambil pilihan berbeda bisa membuka jalan bagi lahirnya harapan baru.



