Sekolah Rakyat Cetak Siswa Percaya Diri & Berprestasi, Gus Ipul: Hasil Nyata Setelah 9 Bulan
Sekolah Rakyat Cetak Siswa Percaya Diri & Berprestasi

Sekolah Rakyat Cetak Siswa Percaya Diri & Berprestasi, Gus Ipul: Hasil Nyata Setelah 9 Bulan

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyatakan bahwa Program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan hasil nyata setelah berjalan lebih dari sembilan bulan. Para siswa yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem kini tumbuh lebih percaya diri, disiplin, dan memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja.

"Siswa mulai lebih percaya diri, dia sudah memiliki minat dan tekad di bidang tertentu dan lebih penting lagi adalah anak-anak sudah memiliki kesadaran memanfaatkan kesempatan yang ada agar mereka benar-benar menjadi siswa yang memiliki ilmu, berkarakter dan pintar," kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 18 April 2026.

Transformasi Siswa dari Ketakutan Menjadi Percaya Diri

Perubahan ini disampaikan Gus Ipul saat meninjau Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makassar. Kepala SRMA 26, Andi Ernawati, mengonfirmasi bahwa anak-anak yang sebelumnya takut tampil kini jauh lebih percaya diri.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Di awal masuk dahulu mereka takut sekali berada di depan, tapi sekarang lebih percaya diri tampil di depan," ujar Andi. Salah satu siswa, Ibrahim Ramadan, yang ayahnya bekerja sebagai kuli dan ibunya telah meninggal dunia, mengaku bersyukur bisa bersekolah di sana. Ia kini mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi nasional Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) untuk tari kreasi putra-putri.

Pendidikan Terpadu dan Tantangan Adaptasi

Sekolah Rakyat menerapkan pendidikan terpadu dengan pagi hari diisi pembelajaran formal berbasis learning management system (LMS), sementara sore hingga malam difokuskan pada pembinaan karakter melalui pendampingan wali asrama dan wali asuh. Gus Ipul mengakui tantangan terbesar muncul di awal program, di mana siswa dan guru menjalani proses adaptasi dengan sistem sekolah berasrama selama dua minggu hingga satu bulan pertama.

"Mulai terbangun kedisiplinan (para) siswa itu untuk membiasakan mereka bangun pagi, mengikuti jadwal yang padat sampai malam hari. Itu memang memerlukan waktu," jelasnya. Namun, memasuki bulan kedua dan ketiga, ritme pembelajaran mulai terbentuk dengan baik.

Dukungan untuk Masa Depan Siswa

Menurut Gus Ipul, para lulusan Sekolah Rakyat akan terus didampingi hingga bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. "Kita ingin anak-anak kita ini memiliki karakter yang kuat sebagai orang yang beragama, memiliki hubungan dengan Tuhan, bisa cinta sesama, cinta ilmu dan menyadari bahwa mereka adalah anak-anak Indonesia yang harus berkontribusi (dalam) kemajuan Indonesia di masa yang akan datang," katanya.

Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), dengan sebagian di antaranya pernah putus sekolah atau berisiko tidak melanjutkan pendidikan. "Mereka dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan untuk dirinya, keluarganya dan untuk Indonesia," tegas Gus Ipul.

Prestasi dan Ekspansi Program

Selain Ibrahim, siswa SRMA 26 yang ikut FLS3N 2026 adalah Riski Nurjannah, Kalilah Karim, Salwa Dzakilla, dan Manohara. Sementara Nurul Atika dan Mega Auliya mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026. Dalam kunjungannya, Gus Ipul meninjau berbagai fasilitas sekolah, termasuk ruang kelas, perpustakaan, dan klinik, serta menyaksikan demonstrasi pembelajaran menggunakan papan tulis digital (smartboard).

SRMA 26 saat ini menampung 141 siswa dalam enam rombongan belajar, terdiri dari 75 perempuan dan 66 laki-laki, yang didukung 16 guru, 15 wali asuh, dan 10 wali asrama. Pemerintah terus memperluas jangkauan program ini dengan target peserta tahun ini menembus lebih dari 30 ribu siswa dan proyeksi total penerima manfaat pada 2026 melampaui 46 ribu siswa.

Tahun depan, angka itu ditargetkan naik menjadi lebih dari 100 ribu siswa. Sesuai arahan Prabowo, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki minimal satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung sekitar 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA, menunjukkan komitmen kuat untuk pendidikan inklusif di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga