Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Kecam BPJN Larang Warga Gunakan Jalan Hasil Swadaya
Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Kecam BPJN Larang Warga Gunakan Jalan

Koalisi masyarakat sipil Aceh mengkritik keputusan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) yang menghentikan penggunaan jalan di Kawasan Enang-enang jalur nasional Bireuen-Takengon, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah yang diperbaiki warga secara swadaya. Jalan tersebut merupakan akses vital penghubung lintas wilayah tengah Aceh yang rusak akibat bencana dan tidak kunjung diperbaiki pemerintah.

Kritik atas Tindakan BPJN

Koalisi masyarakat sipil Aceh menilai langkah BPJN tersebut sebagai bentuk kesewenang-wenangan negara di tengah lambannya penanganan dampak bencana ekologis di Aceh. "Langkah BPJN tersebut merupakan bentuk kesewenang-wenangan pengurus negara. Alasan yang disampaikan juga menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana ekologis di Aceh," kata narahubung Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Alfian, Rabu (24/6).

Menurutnya, inisiatif masyarakat yang secara swadaya membuka kembali akses jalan setelah jembatan Enang-enang terputus akibat bencana sejak akhir November 2025 seharusnya didukung. Upaya gotong royong warga sempat berhasil memulihkan akses transportasi yang selama berbulan-bulan menghambat aktivitas dan perekonomian masyarakat setempat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Putusnya Akses Jalan

"Selama kurang lebih tujuh bulan masyarakat mengalami kesulitan akibat putusnya akses jalan. Melalui kekompakan dan swadaya, mereka mampu membuka kembali jalur yang sangat bermanfaat bagi aktivitas sehari-hari dan roda ekonomi masyarakat," ujar Alfian. Ia menilai kehadiran pemerintah di lokasi bukan untuk memberikan solusi atau kepastian terkait perbaikan infrastruktur, melainkan sebagai respons atas kritik publik terhadap lambannya penanganan kerusakan jalan dan jembatan.

Publik, kata dia, berhak mempertanyakan keberadaan pemerintah selama berbulan-bulan ketika akses utama masyarakat menuju sekolah, fasilitas kesehatan, hingga pusat ekonomi terputus. "Jalan Enang-enang sudah putus sejak akhir November 2025. Pertanyaannya, dimana pemerintah pusat dan daerah selama tujuh bulan terakhir? Apakah masyarakat memang dibiarkan menghadapi kesulitan akses ke sekolah, layanan kesehatan, dan kegiatan ekonomi?" katanya.

Desakan dan Tanggapan BPJN

Masyarakat Sipil Aceh mendesak pemerintah untuk menghentikan tindakan yang dinilai menghambat upaya-upaya alternatif masyarakat dalam mengatasi keterbatasan akses akibat bencana. Sementara itu, Kepala BPJN Aceh Zulkarnaini mengatakan penanganan jalan Enang-enang di jalur Takengon-Bireuen telah masuk dalam program pembangunan tahun 2027. Namun, pemerintah belum merekomendasikan jalan darurat yang dibangun warga untuk dilalui kendaraan roda empat maupun kendaraan bermuatan berat.

"Enang-enang sebenarnya sudah kami programkan untuk dibangun pada 2027. Kami juga sudah turun ke lokasi, bertemu dengan masyarakat yang membangun jalan darurat itu," kata Zulkarnaini kepada wartawan, Selasa (24/6). Ia mengaku telah turun langsung ke lokasi dan bertemu dengan pemerintah daerah serta masyarakat setempat menyusul ramainya sorotan publik terhadap kondisi jalan tersebut.

Alasan Teknis dan Jalur Alternatif

"Untuk sementara kami belum bisa merekomendasikan kendaraan bermuatan tinggi melewati Enang-enang. Kami juga belum bisa menjamin keamanan kendaraan roda empat yang melintas jalan darurat itu," ujarnya. Ia menegaskan pembangunan kembali jalan dan jalan Enang-enang memerlukan kajian teknis khusus mengingat statusnya sebagai infrastruktur jalan nasional ditambah jalan tersebut rawan longsor.

Sementara pihaknya sudah membuka jalur alternatif di wilayah itu agar warga bisa melintas. "Masyarakat diimbau tetap menggunakan jalur alternatif yang telah tersedia," katanya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga