Perang Ukraina Ubah Wajah Militer dan Masyarakat Rusia
Perang Ukraina Ubah Wajah Militer dan Masyarakat Rusia

Perang Ukraina Mengubah Wajah Militer dan Masyarakat Rusia

Jakarta - Perang agresi Rusia terhadap Ukraina telah membawa perubahan besar, tidak hanya di medan perang tetapi juga di dalam tubuh militer dan masyarakat Rusia. Kisah para pembelot, perubahan pola rekrutmen, hingga budaya kekerasan di garis depan menjadi gambaran nyata dari transformasi yang terjadi.

Kisah Pembelotan Igor Shchetko

Igor Shchetko, mantan prajurit Pasukan Rudal Strategis Rusia, menceritakan pengalamannya kepada Deutsche Welle. Ia mengaku pernah menerima perintah tetapi memilih untuk tidak mematuhinya. Setelah invasi besar-besaran ke Ukraina dimulai, ia membelot karena yakin tidak bisa lolos dari wajib militer. Padahal, setahun sebelum perang, ia masih menandatangani kontrak untuk bertugas selama dua tahun.

Keputusan Shchetko dipicu oleh aksi bunuh diri seorang prajurit wajib militer di unitnya. Ia sendiri yang menemukan jenazah rekannya itu. Setelah kejadian tersebut, ia ditempatkan di bagian psikiatri sebuah rumah sakit dan berusaha dipecat dengan alasan kesehatan. Namun, alih-alih diberhentikan, ia malah diperintahkan pindah ke brigade penyerbu. "Saat saya mengetahui akan dikirim ke zona tempur, saya sadar bahwa dalam keadaan apa pun saya tidak akan ikut berperang," ujarnya. Beberapa hari kemudian, ia melarikan diri ke Armenia, lalu melanjutkan perjalanan ke Uni Eropa.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pembelotan dan Penolakan Bertempur

Aktivis hak asasi manusia Sergei Krivenko, yang telah bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak personel militer, memperkirakan sekitar 60.000 tentara Rusia telah meninggalkan unit mereka atau menolak terlibat dalam operasi tempur. Menurutnya, tidak semuanya merupakan kasus pembelotan klasik. Ada juga tentara yang bersembunyi di Rusia atau mencoba memperoleh keterangan medis yang menyatakan mereka tidak layak bertugas.

Krivenko mengatakan bahwa lebih dari 20.000 proses pidana telah dibuka di Rusia terkait mangkir dari dinas, pembelotan, dan penolakan bertempur. Mereka yang menolak berperang dianggap melakukan tindak pidana. Igor Shchetko mengaku jika diekstradisi ke Rusia, ia bisa menghadapi hukuman penjara 15 tahun atau dipaksa bertugas di garis depan.

Siapa yang Masuk ke Militer Rusia?

Menurut Sergei Krivenko, sejak tahun 2023 militer Rusia terutama merekrut tentara baru melalui kontrak dengan imbalan finansial yang menggiurkan. Namun, bukan hanya sukarelawan yang direkrut. Di antara tentara kontrak terdapat narapidana, migran, orang yang terlilit utang, wajib militer, serta penduduk dari wilayah-wilayah yang secara ekonomi lemah. Banyak dari mereka bergabung karena masalah keuangan atau karena tidak memiliki alternatif lain.

Pada saat yang bersamaan, negara memperkuat pelatihan paramiliter di sekolah dan universitas melalui berbagai program patriotik. Para pengamat menekankan bahwa militer Rusia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai kumpulan orang yang kebetulan berada di sana demi uang. Seorang anggota Korps Sukarelawan Rusia yang bertempur di pihak Ukraina dengan nama samaran "Kasper" mengingatkan bahwa selain pasukan yang dianggap sebagai "umpan meriam", militer Rusia juga memiliki unit-unit yang terlatih dengan baik dan sangat termotivasi.

Gambaran Kehidupan di Dalam Pasukan

Antropolog Alexandra Arkhipova menggambarkan adanya budaya kekerasan yang terjadi sehari-hari di dalam militer. Bersama rekan-rekannya, ia mengumpulkan kesaksian dari tentara Rusia, para pembelot, dan keluarga mereka. Salah satu hasil penelitian mereka adalah sebuah "kamus perang" yang berisi istilah-istilah slang dari garis depan dan mencerminkan kehidupan di dalam militer Rusia.

Menurut Arkhipova, banyak istilah tersebut berkaitan dengan pengawasan, hukuman, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Sebagai contoh, istilah "rumah burung" digunakan untuk menyebut operator drone yang tidak hanya memantau musuh, tetapi juga mengawasi rekan-rekan mereka sendiri dan bahkan dapat menembaki mereka yang mencoba mundur. Istilah "lubang" mengacu pada tempat-tempat penahanan dan penghukuman ilegal yang bersifat sementara. Sementara itu, istilah "karantina" merujuk pada pangkalan-pangkalan tempat tentara Rusia yang kembali dari tawanan perang Ukraina diinterogasi oleh Dinas Keamanan Federal Rusia sebelum dikirim kembali ke garis depan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"Tidak ada jalan pulang," tegas Arkhipova. Menurutnya, selama bertahun-tahun perang berlangsung, semakin sulit bagi tentara untuk kembali menjalani kehidupan sipil. Banyak tentara kini melihat luka berat, penangkapan, pembelotan, atau bahkan kematian sebagai satu-satunya "jalan keluar".

Selain itu, telah berkembang semacam pasar gelap untuk bertahan hidup di dalam militer. Menurut Arkhipova, para tentara membayar ribuan dolar untuk mendapatkan cuti, dipindahkan dari garis depan, atau menghindari penugasan ke unit-unit penyerbu. Surat keterangan medis juga dapat dibeli, dan para komandan disuap agar seseorang diizinkan meninggalkan unitnya untuk sementara waktu.

Arkhipova terutama mencatat bahwa sikap terhadap kehidupan manusia di dalam pasukan telah berubah. Banyak responden menggambarkan garis depan sebagai tempat di mana manusia tidak lagi dipandang sebagai individu, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dikorbankan. Dalam sistem seperti itu, komando militer membutuhkan aliran personel baru secara terus-menerus untuk menggantikan kerugian yang terjadi.

Keikutsertaan dalam Perang: Kompensasi dan Keistimewaan

Perang juga mengubah masyarakat Rusia. Menurut jurnalis Alexei Tupitsyn, perang secara bertahap telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan bagi sebagian keluarga bahkan menjadi sumber penghasilan. Ketika mobilisasi dimulai, Tupitsyn dan rekan-rekannya membuat ruang obrolan bagi para istri tentara yang dimobilisasi dan bagi para tentara itu sendiri.

Berdasarkan pengamatannya, pada awalnya ruang obrolan anonim tersebut dipenuhi rasa takut dan keinginan untuk memulangkan anggota keluarga mereka. Namun seiring waktu, perang berubah menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi banyak keluarga. "Istri para tentara yang dimobilisasi sekarang dapat dikatakan termasuk kelas menengah," kata jurnalis tersebut. Keluarga-keluarga itu melunasi pinjaman, membeli mobil, dan membeli perabotan mahal. Tupitsyn juga menunjukkan bahwa di beberapa sekolah, anak-anak para prajurit perang diberi makanan secara terpisah dari anak-anak lainnya. Mereka menerima permen tambahan dan makanan lain sehingga memperoleh perlakuan istimewa.

Sikap Menjaga Jarak dalam Masyarakat

Sementara negara berusaha mengagungkan para veteran yang pulang dari perang, banyak warga dalam kehidupan sehari-hari justru menjaga jarak dari mereka. Hal ini terutama berlaku bagi mantan narapidana yang pernah bertempur dalam perusahaan militer swasta dan brigade penyerbu, papar Tupitsyn.

Ia menceritakan kisah seorang pria yang pernah dihukum karena pembunuhan ganda. Pria itu dibebaskan untuk menjalani dinas militer dan setelah kembali dari garis depan berusaha mendapatkan pekerjaan sebagai guru di sebuah sekolah. Menurut Tupitsyn, namanya telah dihapus dari seluruh catatan kriminal setelah bertugas dalam Grup Wagner, sebuah kelompok tentara bayaran swasta Rusia. "Kepala sekolah menelepon saya dengan ketakutan dan mengatakan bahwa hanya dengan melihatnya saja ia sudah merasa takut," kenang Tupitsyn. Sekolah tersebut akhirnya menolak lamaran pria itu meskipun ia memiliki berbagai medali dan kartu identitas veteran.

Menurut Alexandra Arkhipova, bahkan keluarga personel militer juga mengeluhkan pengucilan sosial. Seorang perempuan menulis kepadanya bahwa ia ingin menjadi "istri seorang pahlawan", tetapi yang ia rasakan justru penolakan dari masyarakat. Perempuan itu mengkritik negara karena menjadikan para serdadu perang sebagai "tentara bayaran" dengan terus-menerus menonjolkan pembayaran uang dan kompensasi yang besar, alih-alih menekankan gagasan tentang pengabdian dan kepahlawanan.

Bagi Igor Shchetko, sang pembelot yang melakukan segala cara agar tidak menghabiskan satu hari pun dalam perang, ada hal lain yang jauh lebih penting. "Tidak ada setetes pun darah orang Ukraina yang menempel di tangan saya, baik darah warga sipil maupun tentara," ujarnya. Ia mengenang bahwa setelah melarikan diri, untuk pertama kalinya ia merasa aman ketika tiba di Prancis. "Saya tidak menyesali apa pun. Saya tetap jujur pada diri saya sendiri," ujarnya.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Rusia dan diadaptasi dari bahasa Jerman oleh Ayu Purwaningsih. Editor: Yuniman Farid.