Pulau Sampah di Pesisir Jakut Bersih Setelah Tiga Hari Dikeruk
Pulau Sampah Jakut Bersih Tiga Hari

Jakarta - Penampakan 'pulau sampah' di pesisir Jakarta Utara (Jakut) menjadi sorotan publik. Setelah tiga hari ditangani, 'pulau sampah' itu akhirnya bersih juga.

Pernyataan Gubernur DKI Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan 'pulau sampah' di pesisir Jakut, tepatnya di pesisir Muara Adem, Muara Angke, Penjaringan telah diangkut. Dia menjelaskan 'pulau sampah' itu terbentuk karena terbawa arus dan menumpuk.

"Sedangkan yang di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi," kata Pramono kepada wartawan di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proses Pembersihan

Pembersihan dilakukan dengan banyak pihak selama tiga hari berturut-turut. Sampah yang menumpuk itu dibersihkan secara manual oleh petugas gabungan hingga akhirnya dibawa kapal angkut sampah.

"Sudah tiga hari ini kita lakukan pengerukan. Sudah selesai? Sudah selesai," tutur Pram, sapaan akrabnya.

Video hamparan sampah membentuk pulau di pesisir Jakut viral di media sosial. Petugas gabungan membersihkan 'pulau sampah' tersebut.

'Pulau Sampah' di Pesisir Utara Jakarta

Tumpukan sampah di pesisir utara Jakarta termasuk masalah yang pelik. Sebelum viral 'pulau sampah', tumpukan sampah sempat terjadi di sejumlah daerah seperti di Cilincing, kawasan pantai hutan mangrove Muara Angke, hingga pesisir Marunda.

Ratusan ton sampah telah diangkut dari lokasi-lokasi tersebut. Namun, diduga perilaku buang sampah sembarangan memicu terjadinya tumpukan-tumpukan sampah baru, termasuk membentuk 'pulau sampah'. Keberadaan 'pulau sampah' itu mencuat lagi ke publik setelah videonya viral di media sosial. Hamparan sampah itu berada sekitar 600-700 meter dari darat.

Sedimentasi sampah tersebut diduga terbentuk bukan dalam jangka waktu sehari atau seminggu. Diperkirakan sampah itu terbawa arus lalu menumpuk dalam sekian lama waktu hingga akhirnya membentuk 'pulau sampah'.

Tumpukan sampah ini juga dikeluhkan para nelayan karena kerap tersangkut di baling-baling perahu mereka saat melaut. Akibatnya, kegiatan nelayan terganggu dan biaya operasional bertambah.

Tumpukan sampah membentuk pulau itu diduga akibat terbawa arus sungai dan laut, lalu menumpuk dan menjulang dari permukaan pesisir laut sehingga menyerupai daratan. Petugas gabungan akan membereskan tumpukan sampah itu selama beberapa hari ke depan.

Petugas Gabungan Keruk 'Pulau Sampah'

Petugas gabungan dikerahkan untuk membereskan 'pulau sampah' tersebut. Sebanyak 70 personel gabungan dilibatkan.

"Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan sekitar 70 personel gabungan," demikian keterangan Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta lewat akun Instagram @upsbadanairdlhdki, Kamis (4/6).

Puluhan personel itu terdiri atas UPS Badan Air Kecamatan Penjaringan, Sudin Lingkungan Hidup Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Satpel Lingkungan Hidup Kecamatan Penjaringan, serta unsur Polairud Polda Metro Jaya.

Petugas gabungan korve membereskan 'pulau sampah' itu sebagai tindak lanjut aduan masyarakat yang disampaikan melalui kanal media sosial. Tumpukan sampah itu berlokasi di Pulau Sedimen pesisir Muara Kali Adem, Kecamatan Penjaringan, Jakut.

"Lokasi pesisir dan area sedimen menjadi salah satu titik yang rentan menjadi tempat berkumpulnya sampah kiriman dari laut maupun badan air. Kondisi tersebut memerlukan penanganan khusus dan kerja sama berbagai pihak agar sampah dapat segera diangkut dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap lingkungan pesisir," jelasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga