Rangkaian kegiatan The Classroom Batch 2 memasuki hari ketiga pada 2 Juli 2026 di Wisma PGN Diklat Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 34 peserta dari tim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendalami keterampilan menulis berita yang relevan di era digital.
Pentingnya Membuka Wawasan di Luar Institusi
Kapokja Komunikasi Informasi dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH, Romi Setiawan, menekankan pentingnya kegiatan ini untuk membuka wawasan terhadap perkembangan komunikasi di luar institusi. "Ada istilah jangan menjadi katak dalam tempurung. Artinya, kita tidak boleh merasa puas dengan apa yang ada di rumah kita sendiri. Kita perlu terus belajar dan mencari tahu sejauh mana perkembangan yang terjadi di luar KLH/BPLH," ujar Romi kepada detikcom.
Ia menambahkan, "Menurut saya, teman-teman detikcom sebagai representasi media digital sangat cukup strategis untuk memberikan gambaran bahwa kecepatan dalam proses penyampaian berita, penyampaian informasi, penyampaian pengelolaan informasi publik bisa menjadi hal yang sangat strategis."
Sesi NewsCraft+: Jurnalistik di Era Click, Swipe & Scroll
The Classroom Batch 2 hari ketiga menghadirkan sesi NewsCraft+ bersama Redaktur Pelaksana detikFinance, Angga Aliya ZRF. Dalam materi bertajuk 'Jurnalistik di Era Click, Swipe & Scroll', Angga membagikan teknik dasar reportase hingga penulisan berita yang menarik di era digital.
Angga menjelaskan bahwa media massa terus berevolusi seiring perkembangan teknologi dan perubahan perilaku audiens. Jika sebelumnya informasi didominasi oleh media cetak, kini lanskap komunikasi bergeser ke media online dan meluas melalui media sosial. "Kalau misalkan kita ambil dari awal 1900-an dan ke belakang, koran itu mendominasi. Kemudian, evolusi ini bergeser dengan hadirnya media online. Dan yang terbaru adalah media sosial," paparnya.
Evolusi ini mendorong perubahan dalam penulisan berita dari editor-driven menjadi audience-driven. "Perubahan yang sangat terasa adalah dulu editor menentukan berita yang bagus. Jadi, mereka menentukan mana yang harus ditaruh halaman belakang, mana yang bisa naik. Editor sangat-sangat berkuasa. Namun sekarang, adalah audience-driven, yakni menulis apa yang diinginkan oleh pembaca," jelas Angga.
Ia juga menyoroti perubahan cara publik mencari informasi: "Kini audiens tidak lagi mencari berita, namun disuguhi berita dari algoritma. Hal ini menjadikan bubble informasi terbentuk sesuai algoritma personal."
Tips Menulis Berita dan Menghadapi Krisis
Menghadapi kondisi tersebut, Angga menekankan pentingnya kemampuan menulis berita yang menarik perhatian audiens tanpa mengabaikan prinsip jurnalistik. Tim KLH/BPLH dapat berpegang pada unsur 5W+1H dan menggunakan bahasa sederhana. Berita harus mengutamakan informasi penting serta didukung data dan fakta kuat.
Angga juga membagikan tips menghadapi krisis yang berpotensi mengancam operasional atau reputasi lembaga. "Karena terkadang pada saat krisis, humas harus bisa bergerak cepat, apalagi di era digital. Jika kita lambat sedikit atau akurasinya terasa sedikit itu akan jadi masalah. Jadi, krisis ini penanganannya memang agak berbeda harus ada teknik dan timing khususnya," katanya.
Praktik Merombak Berita dengan Angle Baru
Di akhir sesi, peserta ditantang merombak berita dengan angle baru yang lebih menarik. "Kami juga melakukan praktek. Jadi, teman-teman diminta merombak berita yang sudah ada, dirombak dengan angle baru yang kira-kira lebih bisa diterima oleh pembaca," ucap Angga.
Ia berharap, "Harapannya, teman-teman KLH/BPLH bisa lebih paham soal isu-isu yang memang diinginkan oleh masyarakat. Apa isu-isu yang memang menjadi perhatian media dan tentunya masyarakat. Dan mungkin materi yang diberikan bisa diimplementasikan supaya bisa menghasilkan sebuah karya yang lebih baik dan tepat sasaran."
Antusiasme Peserta
Selama tiga hari pelaksanaan, antusiasme peserta terlihat dalam setiap sesi. Salah satu peserta, Zeezilia Yusuf, mengungkapkan kegiatan ini memberikan banyak pengetahuan baru, mulai dari pembuatan konten, penulisan berita, hingga strategi branding. "Selama tiga hari ini teman-teman dari batch 2 ini sangat antusias mengikuti acara The Classroom ini. Kita bisa belajar bikin konten, membuat berita, hingga bagaimana cara branding," katanya. "Selama mendapatkan materi dari rekan-rekan detikcom, kita juga bisa mendapatkan informasi lebih jelas, kemudian mendapatkan insight-insight yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya," imbuhnya.
Senada, Danang Budi Santoso, peserta terbaik The Classroom Batch 2, mengaku memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Ia mengapresiasi narasumber yang telah membagikan ilmu relevan dengan kebutuhan komunikasi digital. "Terima kasih kepada The Classroom by detikcom dan narasumber yang telah memberikan ilmu bermanfaat. Banyak sekali ilmu teori dan praktek yang bisa kami serap selama kegiatan berlangsung. Semoga bisa kami terapkan di kantor kami dan satuan kerja," pungkasnya.
Tentang The Classroom Batch 2
The Classroom Batch 2 merupakan kegiatan pengembangan kapasitas komunikasi yang digelar oleh KLH/BPLH bersama detikcom. Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta dari berbagai unit eselon II di KLH/BPLH yang membidangi pengendalian lingkungan hidup, pengelolaan ekosistem, perubahan iklim, persampahan, serta fungsi pendukung lainnya.
Sebelumnya, KLH/BPLH telah menggelar The Classroom Batch 1 pada 17-19 Juni 2026, yang diikuti 32 peserta dari unit Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal) yang berasal dari wilayah Sumatera dan Kalimantan.



