Pada hari Kamis (05/06), Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyatakan bahwa Eropa perlu mempercepat proses keanggotaan bagi enam negara Balkan Barat. "Bagi kami, perluasan Uni Eropa, khususnya ke Balkan Barat, merupakan investasi geopolitik paling penting yang sedang dilakukan," ujar Costa dalam konferensi pers bersama Presiden Serbia Aleksandar Vucic di Beograd.
Enam negara Balkan Barat—Albania, Bosnia-Herzegovina, Kosovo, Makedonia Utara, Serbia, dan Montenegro—telah lama mengupayakan keanggotaan Uni Eropa. Namun hingga kini, mereka belum berhasil menyelesaikan proses seleksi yang ketat.
Pimpinan Uni Eropa Bahas Cara Percepat Keanggotaan
"Besok para pemimpin Eropa akan berdiskusi dengan para pemimpin Balkan Barat tentang bagaimana kami dapat memproses keanggotaan dengan lebih cepat dan lebih baik," kata Costa. Namun, percepatan proses tidak berarti persyaratan dibuat lebih mudah. Menurut Costa, perlu ada peningkatan kepercayaan antarnegara yang terlibat. Salah satunya dengan menghindari rasa frustrasi, baik di pihak negara yang ingin bergabung maupun Uni Eropa.
"Perluasan Uni Eropa bukanlah utopia. Ini sesuatu yang bisa jadi kenyataan dalam beberapa tahun mendatang," ujarnya. "Untuk itu, kita perlu bekerja lebih keras dan lebih cepat."
KTT Uni Eropa-Balkan Barat akan berlangsung di Tivat, Montenegro pada Jumat (06/06). Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para pemimpin untuk meninjau perkembangan negara-negara kandidat. Menjelang KTT, Costa melakukan kunjungan ke sejumlah negara kandidat di Balkan Barat. Dalam pertemuan dengan presiden Serbia, ia menekankan pentingnya reformasi demokrasi dan penyelarasan kebijakan luar negeri Serbia dengan Uni Eropa.
Serbia dapat kehilangan sekitar €1,5 miliar (Rp32,5 triliun) dari Uni Eropa apabila kemunduran demokrasi di negaranya terus berlanjut.
Ketegangan Antarnegara Kandidat
Di tengah upaya mempercepat perluasan Uni Eropa, hubungan antarnegara kandidat justru berpotensi membayangi jalannya KTT. Pada Rabu (03/06), pemerintah Montenegro melarang 87 warga Serbia memasuki wilayahnya dengan alasan keamanan. Mereka tiba di Tivat menggunakan penerbangan Air Serbia. Menurut otoritas keamanan Montenegro, kelompok tersebut membawa peralatan komunikasi dan spanduk bertuliskan "Serbia Menang."
Setelah kejadian itu, badan keamanan Serbia memperingatkan Presiden Vucic agar tidak menghadiri KTT di Montenegro karena alasan keamanan. Badan Intelijen dan Keamanan Serbia (BIA) menyatakan perjalanan ke Montenegro berisiko tinggi bagi Vucic. Sebab, mereka menilai "adanya ancaman aktivitas intelijen asing dan jaringan kriminal di Montenegro."
Dua dekade setelah berpisah dari Serbia, Montenegro dianggap sebagai kandidat terdepan untuk bergabung dengan Uni Eropa. Namun, negara itu masih bermasalah dengan korupsi dan pengaruh politik Serbia.



