Italia dan Spanyol melaporkan bahwa warga negara mereka menjadi korban tewas akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela secara berurutan pada Rabu (24/6). Kementerian Luar Negeri Italia mengonfirmasi satu warga negaranya yang berjenis kelamin laki-laki meninggal dunia di negara bagian La Guaira, salah satu wilayah terdampak paling parah. Nama korban tidak diungkap, namun disebutkan memiliki kewarganegaraan ganda Italia-Venezuela dan lahir di Caracas pada tahun 1970.
Korban Warga Italia dan Spanyol
Kementerian Luar Negeri Italia menyatakan, "Kementerian Luar Negeri telah menerima konfirmasi mengenai kematian seorang warga negara dengan kewarganegaraan ganda Italia-Venezuela," seraya menambahkan bahwa pria itu memiliki keluarga yang tinggal di Italia. Otoritas Roma memperkirakan terdapat sekitar 170.000 pemegang paspor Italia yang kini berada di Venezuela.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Spanyol mengonfirmasi dua warganya tewas akibat gempa tersebut. "Kami sangat berduka atas meninggalnya dua warga negara Spanyol, telah dikonfirmasi oleh keluarga mereka, dan kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan," demikian pernyataan resmi Madrid. Lebih lanjut, disebutkan bahwa jumlah warga Spanyol yang saat ini belum diketahui keberadaannya mencapai 80 orang.
Gempa Kembar Dahsyat
Dua gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5 mengguncang wilayah Venezuela di dekat pesisir Karibia pada Rabu (24/6). Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut fenomena ini sebagai gempa bumi "doublet" atau gempa kembar. Gempa tersebut menyebabkan banyak bangunan runtuh, merusak bandara utama Venezuela, dan memicu kekhawatiran akan jatuhnya banyak korban jiwa.
Otoritas Caracas sejauh ini mengumumkan sedikitnya 235 orang tewas, dengan lebih dari 1.500 orang lainnya mengalami luka-luka. Sedikitnya 200 orang lainnya dilaporkan masih terjebak reruntuhan bangunan yang ambruk. Pemerintah Venezuela terus melakukan upaya pencarian dan penyelamatan, sementara bantuan internasional mulai berdatangan, termasuk dari Amerika Serikat yang mengirimkan kapal perang dan bantuan senilai Rp 2,6 triliun.



