Militer Israel kembali membombardir kota Tyre di Lebanon bagian selatan, meskipun gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah masih diberlakukan. Akibat serangan udara terbaru tersebut, sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas.
Serangan Israel Tewaskan Warga Sipil
Menurut sumber dari otoritas pertahanan sipil Lebanon, seperti dilansir AFP pada Jumat (5/6/2026), salah satu serangan Israel menghantam area dekat Rumah Sakit Jabal Amel. Serangan itu menyebabkan kerusakan ringan pada fasilitas medis tersebut, namun menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai tujuh orang lainnya.
Serangan lainnya menyasar area permukiman di kota Tyre. Akibat serangan ini, tiga orang tewas dan lima orang lainnya luka-luka, termasuk dua anak-anak. Militer Israel kemudian mengeluarkan peringatan evakuasi baru untuk sembilan kota dan desa di Lebanon selatan, memaksa penduduk untuk mengungsi.
Latar Belakang Konflik
Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah yang lebih luas setelah Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel pada 2 Maret lalu. Serangan itu merupakan balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Gencatan senjata bersyarat telah diumumkan pekan ini oleh utusan Lebanon dan Israel. Kesepakatan itu mengharuskan Hizbullah untuk menghentikan serangan dan mundur dari dekat perbatasan. Sebagai gantinya, tentara reguler Lebanon akan ditempatkan di zona percontohan baru. Namun, Hizbullah menolak gencatan senjata tersebut dan menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Dampak Serangan Israel
Kota Tyre yang menjadi target serangan terbaru dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Menyusul perintah evakuasi Israel, banyak warga mencari perlindungan ke Kota Tua yang lebih kecil, yang sejauh ini belum terkena peringatan evakuasi atau serangan.
Sejak pertempuran meletus pada 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 3.526 orang di Lebanon, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Beirut per 4 Juni. Ratusan ribu warga sipil terusir dari rumah mereka akibat konflik yang berkepanjangan ini.



