Perseteruan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) semakin memanas. Kedua partai saling berbalas pernyataan terkait Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang dikabarkan akan segera bergabung dengan PSI.
PSI Sebut Jokowi Tak Lagi Bersama PDIP
Ketua DPP PSI Bestari Barus mengatakan penyematan jaket PSI kepada Jokowi menjadi penanda bahwa Jokowi tidak lagi bersama PDIP. Bestari menegaskan bahwa penyematan jaket akan dilakukan oleh Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep.
“Tetapi nanti, setelah disematkan jaket itu dan diumumkan secara resmi oleh Ketua Umum, itu menjadi permakluman publik sebesar-besarnya bahwa Pak Jokowi sudah bersama PSI dan tidak lagi bersama PDI,” kata Bestari kepada wartawan, Sabtu (13/6).
Ia mengungkapkan bahwa rencana Jokowi menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PSI telah disampaikan sebelumnya oleh Kaesang dalam sejumlah kunjungan, termasuk di Sumatera Selatan dan Lampung.
“Tentunya kalau soal jaketnya itu kan simbolik. Penjaketan itu simbolik tentu menyesuaikan dengan waktu dan tempat nanti di mana Ketua Umum yang akan menyematkan secara simbolis, dimulainya efektifnya beliau nanti Pak Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina,” ujarnya.
Bestari berharap setelah prosesi penyematan jaket PSI, status politik Jokowi menjadi lebih jelas di hadapan publik. Dia menegaskan Jokowi tidak lagi berada di PDIP.
PDIP Bilang Jokowi Dipecat, Bukan Keluar
Pernyataan Bestari Barus kemudian dibalas oleh Politisi PDIP Guntur Romli. Dia menegaskan bahwa Jokowi sudah dipecat PDIP pada Desember 2024.
“Saya koreksi judulnya, Jokowi bukan hanya tidak lagi bersama PDI Perjuangan, tapi Jokowi sudah dipecat oleh PDI Perjuangan, bersama Gibran, Bobby, dan 27 lainnya pada Desember 2024, karena pelanggaran konstitusional, pelanggaran terhadap AD/ART dan peraturan partai,” ujar Guntur saat dihubungi, Minggu (14/6).
“Jadi Jokowi bukan keluar dari PDI Perjuangan atau mundur, tapi dipecat karena pelanggaran. Karena dia sudah dipecat, maka bukan menjadi urusan PDI Perjuangan dia mau tidak berpartai atau berpartai lagi,” tambahnya.
Guntur juga mengungkit pengikut Jokowi saat masih di PDIP yang tidak mau disebut sebagai petugas partai. Dia menyentil hal tersebut dan menyinggung posisi Jokowi di PSI yang dianggapnya hanya sebagai pelayan.
“Bedanya ‘petugas partai’ Jokowi sebagai orang partai (PDI Perjuangan) ditugaskan untuk kepentingan rakyat dan negara. ‘Jongos partai’ Jokowi sebagai orang partai (PSI) hanya bekerja untuk kepentingan elektoral partai, itu saja,” katanya.
PSI Sebut PDIP Sakit Hati Mendalam Ditinggal Jokowi
Bestari Barus merespons lagi pernyataan Guntur Romli. Dia mengatakan jajaran PDIP sakit hati mendalam setelah ditinggal Jokowi. Ia berharap PDIP bisa menata diri agar lebih dewasa dalam berpolitik.
“Tapi memang apa yang beberapa kali saya sampaikan di berbagai kesempatan bahwa memang rasa sakit ditinggal oleh Pak Jokowi itu ya, rasa sakit yang dirasakan karena ditinggal oleh Pak Jokowi itu memang sangat mendalam dan terpelihara itu bertumpuk-tumpuk di dalam hati mereka gitu. Ya perlu pendidikan pendewasaan kembali itu di kurikulum, kalau ada kurikulumnya juga itu partai, supaya bisa kemudian lebih menata diri lebih dewasa di dalam berpolitik,” kata Bestari saat dihubungi.
Bestari tidak mempersoalkan Jokowi dipecat atau tidak. Dia mengatakan banyak masyarakat yang bahagia Jokowi tidak lagi berada di PDIP. Dia juga berharap PDIP tidak ikut-ikutan mencampuri urusan PSI.
“Lho, begini, apa pun yang akan dilakukan Pak Jokowi bersama PSI tidak usah menjadi apa namanya perhatian ataupun concern daripada PDIP. Uruslah partaimu, kan begitu. Nah ya kalau Pak Jokowi itu bahkan kita jaketkan secara ini simbolis dulu sudah sudah pernah di rumah beliau gitu, ya jaket kehormatan kita berikan gitu,” imbuh dia.
PDIP Ngaku Sudah Lupa Jokowi
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira membalas pernyataan Bestari dengan menegaskan bahwa Jokowi dipecat PDIP. Hugo mengatakan internal PDIP sudah lupa dengan Jokowi. Namun, beredarnya isu ijazah palsu yang dituduhkan ke Jokowi membuat PDIP teringat lagi dengan Presiden ke-7 RI tersebut.
“Di PDI Perjuangan kami sudah lupa. Gara-gara ijazah palsu jadi muncul lagi orang ini. Algoritma ijazah mengingatkan nama ini,” sambungnya.
Menurut Hugo, hal yang diingat dari Jokowi hanya seputar isu ijazah palsu. “Yang teringat malah ijazah palsu karena ramai dibicarakan di media dan sampai sekarang tidak ada penyelesaiannya,” ujar Hugo.
Respons PSI
Ketua DPP PSI Bestari Barus menyikapi pernyataan Andreas Hugo Pareira yang menyebut partainya sudah melupakan Jokowi. PSI menyinggung nama Jokowi yang terus diperbincangkan.
“Ya alhamdulillah, kalau orang sudah lupa itu udah nggak inget gitu loh, tapi kan masih terus ngomongin aja,” kata Bestari kepada wartawan, Senin (15/6).
Bestari mengatakan PDIP belum melupakan sosok Jokowi. Ia mengungkit kemenangan Jokowi dalam pemilu bukan lantaran PDIP, melainkan karena rakyat.
“Belum melupakan gitu kan, belum move on-lah, belum move on, ya kan? Jadi ya kami cukup prihatin dengan rasa yang dialami oleh PDIP atas hengkangnya Pak Jokowi ke partai kami,” kata Bestari.
“Kalau konstitusinya konstitusi PDIP memang tidak patut untuk diikuti oleh Presiden, apabila tidak berkesesuaian dengan yang menjadi tugas Pak Presiden sebagai abdi rakyat. Beliau bukan abdi partai apalagi sekedar petugas partai. Dan ingat, yang memenangkan, yang memenangkan Pak Jokowi itu bukan PDIP sendiri, tapi rakyat,” sambungnya.
Ia mengatakan presiden adalah abdi rakyat bukan partai. Bestari menyambut dengan bahagia Jokowi tidak lagi bersama PDIP.
“Presiden abdi rakyat, ya masyarakat Indonesia sangat bersyukur dan kami berbahagia. Semakin cepat Pak Jokowi bersama kami, maka semakin cepat rakyat akan mendapatkan figur kesayangan mereka kembali, saya kira itu. Tanpa harus diintimidasi ataupun dikuyo-kuyo oleh partai-partai seperti itu gitu loh,” imbuhnya.



