Beirut - Lebanon kembali terseret ke dalam pusaran konflik Timur Tengah setelah Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, melancarkan serangan terhadap Israel pada awal Maret lalu. Meskipun menuai kritik, Hizbullah mengklaim bahwa tindakan mereka justru bertujuan untuk membela rakyat Lebanon.
Dilansir dari Aljazeera pada Minggu (7/6/2026), Hizbullah menyatakan telah melancarkan setidaknya 25 operasi terhadap pasukan dan instalasi Israel pada hari Sabtu (6/6). Operasi tersebut dilakukan di wilayah Lebanon selatan yang menjadi medan pertempuran.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan komitmen mereka untuk mempertahankan Lebanon dan rakyatnya. Mereka menyebut serangan itu sebagai "hal terkecil yang dapat dilakukan untuk mencegah" Israel dan menghalangi negara tersebut dari "mengejar tujuan berbahayanya" terhadap Lebanon.
Tiga Tentara Lebanon Tewas dalam Serangan Udara Israel
Sebelumnya, militer Lebanon mengumumkan bahwa tiga tentaranya tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah kendaraan militer di wilayah selatan negara tersebut. Insiden mematikan ini terjadi di tengah upaya gencatan senjata bersyarat yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Militer Lebanon, melalui pernyataan di media sosial X, mengecam serangan tersebut sebagai "serangan biadab". "Sejumlah personel militer, termasuk seorang perwira, gugur dalam serangan biadab Israel yang menargetkan sebuah kendaraan militer di ruas jalan Khardali-Nabatieh," demikian bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari AFP pada Sabtu (6/6/2026).
Sementara itu, militer Israel membela tindakan mereka dengan dalih bahwa kendaraan yang menjadi sasaran "bergerak secara mencurigakan" di "zona pertempuran aktif yang telah dievakuasi". Mereka menegaskan bahwa operasi mereka ditujukan terhadap "organisasi teroris Hizbullah, bukan terhadap tentara Lebanon". Militer Israel juga menyatakan bahwa mereka "sedang meninjau insiden tersebut".
Gencatan Senjata yang Rapuh
Serangan mematikan ini terjadi di tengah ketidakstabilan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April lalu. Gencatan senjata yang seharusnya mengakhiri pertempuran antara Israel dan Hizbullah itu nyatanya tidak dihormati oleh kedua belah pihak.
Israel dan Hizbullah saling tuduh melanggar gencatan senjata. Masing-masing pihak membenarkan serangan mereka sebagai respons atas dugaan pelanggaran yang dilakukan pihak lain. Gencatan senjata bersyarat yang lebih baru diumumkan oleh utusan Lebanon dan Israel di Washington DC pekan ini. Isinya mengharuskan Hizbullah untuk berhenti menyerang dan mundur dari dekat perbatasan Israel. Sebagai gantinya, tentara Lebanon akan ditempatkan di "zona percontohan" di area tersebut dan menjalankan kendali eksklusif.
Namun, Hizbullah secara terbuka menolak gencatan senjata tersebut. Mereka menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Pada Sabtu (6/6), Israel memperbarui perintah evakuasi untuk lima desa di Lebanon selatan dan timur. Penduduk setempat diinstruksikan untuk mengungsi ke area utara Sungai Zahrani. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, dalam pernyataan berbahasa Arab di Telegram, mengatakan, "Mengingat pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh teroris Hizbullah, IDF (Angkatan Bersenjata Israel) terpaksa bertindak terhadapnya dengan kekuatan."
Konteks Lebih Luas
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah yang meluas setelah Hizbullah menyerang Israel pada 2 Maret lalu. Serangan itu dilakukan sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat serangan AS-Israel pada 28 Februari.



