Arif, seorang pedagang daging sapi di Pasar Senggol Rawa Belong, Jakarta Barat, telah berjualan sejak usia 16 tahun atau sekitar 30 tahun lamanya. Ia memulai usahanya pada tahun 1994 di Jalan Ayub Gang Yahya, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk. Lokasinya berada di sepanjang jalan yang pada pagi hari berubah menjadi pasar senggol. Di sana, Arif tidak sendirian; ada beberapa pedagang daging sapi lain yang menjadi pesaingnya.
Perjuangan Merintis Usaha dan Menghadapi Pelanggan
Ditemui pada Minggu, 21 Juni 2026, sekitar pukul 10.20 WIB, Arif tengah bersantai sambil mengobrol dengan teman-temannya di pasar dan bermain ponsel pintar. Tokonya buka sejak pukul 05.30 pagi, dan pada hari itu dagangannya baru terjual 3 kilogram. Arif menceritakan bagaimana ia menggaet pelanggan dan menghadapi berbagai karakter pembeli. "Nyari pelanggan kan nggak mudah. Kita harus face to face atau memasarkannya dengan lugas. Kita mengikuti keinginan customer. Daging, daging sapi ya, daging sapi. Kadang-kadang ada yang request (daging kambing)," ujarnya.
Arif mengambil stok daging dari vendor. Pada saat ditemui, harga daging sapi per kilogram mencapai Rp170 ribu. Sejak awal tahun 2026, Arif mampu menjual minimal 15 hingga 20 kilogram daging setiap hari. "Mulai buka setengah enam pagi. Tutup enggak pasti, tergantung rame enggaknya pasar. Ada jam 10.00, jam 11.00, jam setengah 12. Kadang kalau lagi ya nggak mood ya jam 09 aja udah tutup. Saat rata ini, dari awal 2026 minimal 15 kilo, maksimal 20 kilo," tuturnya.
Harapan akan Stabilitas Harga Daging Sapi
Di tengah usahanya, Arif berharap harga daging sapi bisa stabil kembali. Menurutnya, harga daging sapi sejak awal 2026 sangat tidak terkendali, dan ia tidak mengetahui penyebabnya. "Sebagai pedagang sama pembeli, ya stabil dah, stabil. Stabil harga maksudnya, stabil harga. Pembeli bisa membeli, penjual bisa menjual dengan layak. Kenapa ini dari awal 2026 sampai sekarang lagi berjalan tidak terkendali. Tidak terkendali, entah itu apa sebabnya," kata Arif.
Adopsi QRIS untuk Mempermudah Transaksi
Setelah berjualan selama 30 tahun, Arif mulai menggunakan QRIS BRI sebagai metode pembayaran sejak tiga bulan lalu. Langkah ini diambil setelah banyak pelanggan, termasuk seorang karyawan BRI, menawarkannya untuk memakai QRIS. Menurut Arif, ia mengikuti perkembangan zaman untuk mempermudah pembeli. "Kalo QRIS mah baru kali 3 bulan. Banyak pelanggan saya, pelanggan saya yang menawarkan. Customer saya kan istilahnya ada yang bekerja di... sebagai teras BRI (Kapal Teras BRI Bahtera Seva), apa, yang suka belanja sama saya menawarkan gitu, menawarkan. Itu mempermudah aja, ngikutin zaman aja gitu," kata Arif.
Arif mengakui bahwa pedagang lain di pasar senggol ini juga ditawari menggunakan QRIS oleh orang BRI. Berdasarkan pengamatan detikcom di lokasi, beberapa pedagang sudah mulai menyediakan QRIS sebagai opsi pembayaran. Meski baru tiga bulan menggunakan QRIS, Arif masih harus menyesuaikan diri, terutama saat hendak membayar ke vendor dagingnya. "Kalau penjualan saya kan daging, sapi, ngambil barang dagangan, pagi, sore harus disetorkan. Untung rugi vendor itu nggak mau tahu. Habis nggak habis dagangan saya, khususnya daging sapi, harus disetorkan sesuai harga dari sana. Begitu. Makanya kalau pakai itu QRIS kadang-kadang kita harus mencairkan dulu," sebutnya. Potongan biaya juga ada.
Tanggapan Pelanggan tentang QRIS
Topik, salah satu pembeli daging di tempat Arif, mengaku baru-baru ini menjadi langganan. Sebelumnya, ia berpindah-pindah toko saat berbelanja daging di Pasar Senggol Rawa Belong. "Saya belakangan sering beli daging di abang ini. Dulu sih muter-muter aja ke pedagang yang lain, cuma akhirnya sreg sama yang ini," kata dia. Topik yang sebelumnya membayar tunai menyambut baik kehadiran QRIS. "Kemarin-kemarin kaga ada QRIS, sekarang dia pake. Ya baguslah, seneng juga, lebih gampang buat kita belanja lah, kalo-kalo kurang bawa duit atau malah lupa," ujarnya.
Ayu, warga sekitar Rawa Belong, juga mengapresiasi adanya QRIS. Menurutnya, QRIS sangat dibutuhkan pembeli di zaman sekarang, terutama bagi yang suka lupa membawa uang tunai atau untuk berjaga-jaga jika kurang uang. "Seneng sih ada QRIS sekarang. Ini daging tadi suami yang beli, katanya sekarang sudah ada QRIS di toko itu. Sangat, sangat membantu ya, apalagi zaman sekarang, gitu. Kayak sebaiknya memang setiap toko ataupun tempat jualan nyediain opsi QRIS sih," sebutnya saat ditemui di sekitar pasar.



