JAKARTA - Aplikasi pesan terenkripsi Telegram disebut-sebut sebagai salah satu platform yang paling sering digunakan oleh pelaku pembajakan untuk menyebarkan tautan film, serial, dan siaran olahraga ilegal di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Larissa Knapp, mantan agen Federal Bureau of Investigation (FBI) yang memiliki pengalaman selama 27 tahun.
Peran Larissa Knapp di ACE
Saat ini, Knapp bergabung dengan Motion Picture Association (MPA) sebagai bagian dari Alliance for Creativity and Entertainment (ACE), sebuah koalisi global yang bertujuan memerangi pembajakan konten. Dalam wawancaranya, ia menjelaskan bahwa para pembajak cenderung oportunis dan akan memanfaatkan berbagai aplikasi pesan terenkripsi untuk menyebarkan tautan ilegal mereka.
Telegram Jadi Favorit Pembajak
Menurut Knapp, Telegram menjadi salah satu aplikasi yang paling difavoritkan oleh para pembajak. Sebelumnya, ia bertugas di skuad peretasan komputer dan divisi hak kekayaan intelektual FBI. Pengalamannya tersebut memberinya wawasan mendalam tentang modus operandi para pelaku pembajakan.
ACE sendiri terus berupaya memberantas pembajakan global dengan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan penyedia layanan internet. Mereka juga mengingatkan bahwa anak muda menjadi sasaran empuk pembajakan, seperti yang diungkapkan dalam artikel sebelumnya.
Dengan maraknya pembajakan melalui Telegram, ACE mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan tidak mengakses konten ilegal. Langkah ini penting untuk melindungi hak cipta dan mendukung industri kreatif.



