Aktor sekaligus presiden dewan juri utama Festival Film Internasional Shanghai (SIFF) ke-28, Tony Leung Chiu-wai, menyebut penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam industri film sebagai "pedang bermata dua". Pernyataan ini disampaikan oleh bintang berusia 63 tahun tersebut saat merenungkan dampak AI terhadap Hollywood dan perfilman global.
AI Hemat Waktu dan Biaya, tapi Berisiko
Menurut Tony Leung, AI memberikan efisiensi signifikan dalam proses produksi film. "Saya pikir AI adalah pedang bermata dua. Ini menghemat banyak waktu kita dalam pra-produksi dan pasca-produksi," ujarnya. Namun, ia juga menyoroti sisi negatif dari efisiensi tersebut.
"Ini menghemat banyak uang, tetapi uang ini akan dialokasikan untuk film-film arus utama, film-film yang menghibur karena (pembuatan film dengan AI) lebih mudah dan menghemat uang," sambung Leung. Ia khawatir bahwa penghematan biaya justru akan mengarah pada produksi film komersial massal, mengorbankan film-film independen dan eksperimental yang membutuhkan pendekatan lebih manual.
Dampak pada Keberagaman dan Kreativitas
Leung menekankan bahwa dominasi AI dalam produksi film dapat mengancam keberagaman konten. "Film-film independen yang unik mungkin akan semakin sulit mendapat pendanaan karena investor lebih memilih proyek yang aman secara komersial dengan bantuan AI," jelasnya. Ia mengingatkan bahwa inovasi sering lahir dari keterbatasan, dan kemudahan yang ditawarkan AI bisa mematikan kreativitas.
Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan global tentang peran AI dalam seni. Di satu sisi, AI mempercepat proses editing, efek visual, dan bahkan penulisan skenario. Di sisi lain, banyak sineas khawatir bahwa AI akan menggantikan peran manusia dan mengurangi nilai artistik.
SIFF ke-28 dan Masa Depan Film
Festival Film Internasional Shanghai ke-28 menjadi panggung bagi Tony Leung untuk menyuarakan pandangannya. Sebagai presiden dewan juri, ia bertanggung jawab menilai film-film dari berbagai genre dan negara. Kehadiran Leung sebagai juri utama juga menandai pengaruhnya yang terus berlanjut di industri film Asia.
Leung, yang dikenal lewat film-film seperti "In the Mood for Love" dan "The Grandmaster", mengajak para sineas untuk bijak menggunakan AI. "Kita harus memastikan bahwa teknologi melayani seni, bukan sebaliknya," pungkasnya.



