Dari dataran tinggi Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, lahir matcha lokal di tangan Rizal Firdaus Rayfasha, pendiri IndoMatcha. Melihat besarnya potensi kebun teh Nusantara, Rizal mulai mengembangkan merek matcha lokal tersebut pada 2016 silam. Kala itu, proses pembuatannya masih dilakukan dalam skala kecil dengan teknik yang terus disempurnakan dari waktu ke waktu.
Permintaan Awal Hanya 10 Kilogram per Bulan
"Waktu itu proses pengolahannya masih sedikit. Permintaannya juga mungkin baru 10 kilo aja per bulan," kata Rizal ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (2/7/2026). Meski demikian, Rizal tidak patah semangat. Ia terus melakukan riset dan pengembangan untuk menghasilkan matcha berkualitas tinggi yang mampu bersaing dengan produk impor.
Potensi Besar Kebun Teh Nusantara
Indonesia memiliki perkebunan teh yang luas, terutama di Jawa Barat. Menurut Rizal, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk produksi matcha. "Kebun teh di Indonesia sangat besar, tapi selama ini lebih banyak untuk teh hitam atau teh hijau biasa. Padahal, matcha memiliki nilai tambah yang jauh lebih tinggi," jelasnya.
Proses produksi matcha memerlukan teknik khusus, mulai dari penanaman yang dinaungi hingga penggilingan batu. Rizal mengaku terus belajar dari para ahli dan melakukan uji coba berulang kali untuk mendapatkan rasa dan tekstur yang pas.
Dampak bagi Petani Teh Lokal
Kehadiran IndoMatcha diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani teh lokal. Dengan adanya permintaan matcha, petani bisa mendapatkan harga jual yang lebih baik dibandingkan menjual daun teh mentah. "Kami bekerja sama dengan petani di Ciwidey untuk memastikan kualitas bahan baku. Ini juga membantu mereka mendapatkan pendapatan yang lebih stabil," tambah Rizal.
Hingga kini, IndoMatcha terus berkembang. Rizal menargetkan produksi matcha lokal bisa mencapai skala industri dalam beberapa tahun ke depan, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang selama ini masih bergantung pada impor.



