Umat Muslim yang hendak menjalankan puasa sunah Tasua dan Asyura pada tahun 1448 H perlu mencermati perbedaan kalender antara pemerintah, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). Penetapan 1 Muharram 1448 H tidak seragam, sehingga jadwal puasa pun bergeser satu hari antarormas.
Perbedaan Penetapan 1 Muharram 1448 H
Pemerintah dan Muhammadiyah telah menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada tanggal yang sama. Namun, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki perhitungan sendiri yang mengakibatkan awal Muharram berbeda satu hari. Akibatnya, jadwal puasa Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) menjadi tidak serempak.
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Berdasarkan keputusan pemerintah dan Muhammadiyah, puasa Tasua jatuh pada hari Senin, 17 Agustus 2026, sedangkan puasa Asyura pada Selasa, 18 Agustus 2026. Umat Muslim yang mengikuti kedua ormas ini dapat menjalankan puasa pada tanggal tersebut.
Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Versi NU
Berbeda dengan pemerintah dan Muhammadiyah, NU menetapkan 1 Muharram 1448 H sehari lebih lambat. Dengan demikian, puasa Tasua versi NU jatuh pada Selasa, 18 Agustus 2026, dan puasa Asyura pada Rabu, 19 Agustus 2026. Umat yang mengikuti NU harus menyesuaikan jadwal ibadahnya.
Durasi Puasa Asyura: Cukup Sehari atau Bisa Lebih?
Masyarakat kerap bertanya apakah puasa Asyura cukup dilakukan sehari (10 Muharram) atau bisa ditambah dengan puasa pada 11 Muharram. Menurut para ulama, puasa Asyura hukumnya sunah dan cukup dilaksanakan pada 10 Muharram. Namun, dianjurkan untuk menambah puasa pada 9 Muharram (Tasua) atau 11 Muharram untuk membedakan diri dari praktik puasa kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada 10 Muharram. Anjuran ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan berpuasa pada 9 dan 10 Muharram, atau 10 dan 11 Muharram.
Bagi yang ingin mendapatkan keutamaan lebih, dapat menjalankan puasa selama tiga hari, yaitu 9, 10, dan 11 Muharram. Namun, yang terpenting adalah niat dan konsistensi dalam beribadah sesuai dengan kemampuan masing-masing.



