Es Abadi Puncak Jaya Papua Diprediksi Hilang Akhir 2026
Es Abadi Puncak Jaya Diprediksi Hilang 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius terkait masa depan satu-satunya gletser tropis di Indonesia. Melalui unggahan resmi di akun Instagram @infobmkg pada Jumat (3/7/2026), BMKG menyatakan bahwa lapisan es abadi yang berada di Puncak Jaya, Papua, diprediksi akan lenyap sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027.

Ancaman Kepunahan Es Tropis

“Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya,” tulis BMKG dalam keterangan resminya. Pernyataan ini menandai titik kritis dalam sejarah iklim Indonesia, karena Puncak Jaya merupakan satu-satunya lokasi di wilayah tropis Indonesia yang masih memiliki gletser.

Para pakar klimatologi BMKG telah melakukan pemantauan dan analisis terhadap ketebalan serta luas es di kawasan tersebut. Hasilnya menunjukkan penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Faktor utama yang mempercepat pencairan adalah peningkatan suhu global akibat perubahan iklim.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Hilangnya Es Abadi

Hilangnya es abadi di Puncak Jaya tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga pada ekosistem lokal dan ketersediaan air di wilayah sekitarnya. Gletser berfungsi sebagai reservoir air tawar yang meleleh secara perlahan dan memasok air ke sungai-sungai di Papua. Tanpa es tersebut, pola hidrologi dapat berubah drastis, mempengaruhi pertanian, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat adat.

BMKG menekankan bahwa fenomena ini merupakan alarm bagi upaya mitigasi perubahan iklim di Indonesia. Data dari berbagai lembaga internasional juga menunjukkan bahwa gletser tropis di seluruh dunia, termasuk di Pegunungan Andes dan Kilimanjaro, mengalami penyusutan yang cepat. Namun, Puncak Jaya menjadi salah satu yang paling terancam karena lokasinya yang unik di khatulistiwa.

Upaya Pemantauan dan Mitigasi

BMKG terus memantau kondisi es melalui citra satelit dan pengukuran langsung di lapangan. Meskipun upaya penyelamatan es secara langsung sulit dilakukan, langkah-langkah pengurangan emisi gas rumah kaca secara global diharapkan dapat memperlambat laju pencairan. Pemerintah Indonesia juga didorong untuk memperkuat kebijakan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

“Kami mengimbau semua pihak untuk lebih peduli terhadap isu perubahan iklim. Kehilangan es abadi ini adalah bukti nyata bahwa dampaknya sudah di depan mata,” pungkas BMKG.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga