Harga kopi arabika di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengalami kenaikan signifikan pada musim panen 2026. Di tingkat petani, harga buah kopi (cherry) saat ini mencapai Rp 20.000 hingga Rp 22.000 per kilogram, melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar Rp 15.000 per kilogram.
Penyebab Kenaikan Harga
Kenaikan harga ini dipicu oleh menurunnya hasil panen akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Java Sindoro-Sumbing, Sumarno, menyatakan bahwa kenaikan harga bahan baku diperkirakan akan berdampak pada naiknya harga kopi olahan. Hal ini disampaikan Sumarno dalam keterangannya yang dilansir dari Antara pada Kamis (2/7/2026).
Dampak bagi Petani dan Pasar
Bagi petani, kenaikan harga ini tentu menguntungkan karena pendapatan mereka meningkat. Namun, di sisi lain, produksi yang lebih rendah berarti volume penjualan berkurang. Dampak selanjutnya adalah harga kopi olahan di pasaran kemungkinan besar akan ikut naik, sehingga konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk menikmati kopi arabika Temanggung.
Kenaikan harga kopi arabika Temanggung ini juga terjadi di tengah tren kenaikan harga kopi global, seperti yang dilaporkan sebelumnya mengenai kenaikan harga kopi di Vietnam yang berdampak pada pasar kopi dunia.
Produksi Menurun Akibat Cuaca
Cuaca ekstrem yang tidak menentu menjadi faktor utama penurunan produksi kopi arabika di Temanggung. Musim kemarau yang berkepanjangan dan curah hujan yang tidak merata menyebabkan banyak tanaman kopi mengalami stres, sehingga buah yang dihasilkan lebih sedikit dan kualitasnya pun terpengaruh. Kondisi ini memicu kelangkaan pasokan dan mendorong harga naik.
Para petani berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, seperti penyediaan bibit unggul tahan cuaca ekstrem dan pelatihan teknik budidaya yang adaptif, agar produksi kopi arabika Temanggung tetap stabil di masa mendatang.



