Mentan Temui Prabowo, Laporkan Harga Sawit Pulih dan Antisipasi Kemarau
Mentan Temui Prabowo, Bahas Harga Sawit dan Antisipasi Kemarau

Mentan Temui Prabowo, Laporkan Harga Sawit Pulih dan Antisipasi Kemarau

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Dalam pertemuan tersebut, Amran melaporkan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang sempat turun kini telah kembali normal, meskipun masih ada sekitar 5 hingga 10 persen yang belum pulih sepenuhnya.

“Mungkin yang pertama, perkiraan saya ya, diskusi masalah TBS yang beberapa hari lalu turun, tapi alhamdulillah sudah kembali normal. Tapi masih ada sedikit, mungkin sekitar 5 persen sampai 10 persen yang belum pulih,” ujar Amran kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Amran menambahkan bahwa terdapat sekitar 170 hingga 180 perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS sesuai harga pasar. Ia menegaskan akan menindaklanjuti perusahaan tersebut agar segera menyesuaikan harga.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Dari 274 perusahaan yang kemarin kita surati, ada mungkin sekitar 170-180 ya. Kita tindak lanjuti terus sampai mereka harus menaikkan harga secara mutlak,” jelasnya.

Kesiapan Pangan dan Antisipasi Kemarau

Selain harga sawit, Amran juga melaporkan kesiapan pangan dan hilirisasi kepada Presiden. Ia memastikan Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli, Agustus, dan September.

“Kalau untuk antisipasi Juli, Agustus, September memang musim kering. Tetapi antisipasinya, kita sudah memperbaiki irigasi, kemudian menyiapkan benih dan bibit yang tahan kekeringan, melakukan pompanisasi, serta memasang irigasi pompa di lapangan,” tutur Amran.

Program Benih Gratis Rp9,95 Triliun

Pada kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan program penyaluran benih gratis untuk berbagai komoditas perkebunan dengan target lahan seluas 870 ribu hektare hingga tahun 2027. Anggaran sebesar Rp9,95 triliun telah disiapkan untuk program ini.

“Targetnya total adalah 870 ribu hektare seluruh Indonesia. Komoditasnya adalah kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala. Ini komoditas strategis yang permintaannya tinggi di tingkat dunia,” kata Amran di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Pembagian benih gratis ini sudah dimulai sejak tahun lalu. Pada 2026, Kementan telah melakukan pembibitan dengan target penyaluran akhir tahun. Total anggaran mencapai hampir Rp10 triliun.

“Totalnya tiga tahun ini 870 ribu hektare. Anggarannya Rp9,95 triliun, kurang lebih Rp10 triliun. Kelapa, tebu, kakao, kopi, mete, pala, lada. Ya, semua untuk semua komoditas,” ucapnya.

Amran memastikan pembagian benih tidak dilakukan sembarangan. Pihaknya melihat potensi dan kebiasaan daerah dalam menanam komoditas tertentu. Proses pembibitan dilakukan di masing-masing daerah untuk efisiensi logistik.

“Jangan yang tidak biasa tanam kelapa diberi kelapa. Jangan yang tidak biasa tanam kakao diberi kakao. Yang sudah budayanya tanam kakao, iklimnya mendukung, sudah diarahkan ke sana,” urainya.

“Cara pembibitannya adalah di tempat situ. Supaya tidak diangkut dari Jawa ke Sulsel, dari Sulsel ke Papua, enggak. Di tempat itu kita lakukan pembibitan, ahlinya kita datangkan. Jadi hemat dan efisien dari sisi anggaran,” tambah Amran.

Rincian Anggaran

Anggaran Rp9,95 triliun dialokasikan selama tiga tahun, yakni 2025-2027. Pada 2025, dana sebesar Rp2,54 triliun telah dikucurkan untuk program peningkatan produktivitas pertanian. Pada 2026 dianggarkan Rp5,63 triliun, dan pada 2027 dialokasikan Rp1,58 triliun.

Berdasarkan komoditas, benih tebu dianggarkan Rp1,52 triliun termasuk biaya tanam dan pengadaan benih. Kakao mendapat alokasi Rp2,49 triliun, kelapa Rp1,16 triliun, kopi Rp2,16 triliun, mete Rp500 miliar, serta lada dan pala Rp350 miliar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga