Ribuan butir telur puyuh yang sudah ditata rapi di dalam rak berjejer di teras rumah Suprianto, di Dusun Ganjuran 2, Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pada Jumat (19/6/2026) pagi, selepas membersihkan kandang puyuh, Suprianto mengemas telur puyuh untuk dikirim ke pedagang pasar dan mitra distribusi.
Rutinitas Pagi Suprianto
“Kegiatan ini rutin saya lakukan setiap pagi. Membersihkan kandang, mengemas kotoran puyuh di ember yang sudah saya sediakan untuk dikirim ke budidaya ikan sebagai bibit pakan, kemudian mengemas telur untuk saya kirim ke mitra distribusi,” ujarnya kepada Kompas.com. Suasana di sekitar rumah sangat lengang, ditingkahi semilir angin dan aroma dedaunan segar.
Suprianto mengelola peternakan puyuh yang menghasilkan ribuan telur setiap hari. Telur-telur tersebut dikumpulkan, dibersihkan, dan dikemas dalam rak khusus sebelum dikirim ke berbagai mitra. Kotoran puyuh juga dimanfaatkan sebagai pakan ikan, menunjukkan sistem usaha yang terintegrasi.
Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Usaha ini tidak hanya memberikan penghasilan bagi Suprianto, tetapi juga mendukung ekonomi lokal dengan menyediakan telur puyuh segar bagi pedagang pasar. Pemanfaatan kotoran puyuh sebagai pakan ikan mengurangi limbah dan mendukung budidaya ikan di daerah sekitar. “Dengan mengirim kotoran ke budidaya ikan, saya merasa ikut menjaga lingkungan,” tambahnya.
Kegiatan ini dilakukan setiap pagi tanpa terkecuali. Suprianto berharap usahanya terus berkembang dan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dari desa setempat. “Ke depan, saya ingin memperluas kandang dan menambah jumlah puyuh,” pungkasnya.



