Jakarta - Berawal dari iseng saat pandemi, Misye, pemilik Kopi Toejoean, berhasil merintis usaha kopi yang kini menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan merek Kopi Toejoean ini berkembang dan pernah menempati spot kafe milik Rumah BUMN BRI Jakarta.
Pada Sabtu (6/6/2026), Misye terlihat sibuk di stan bazar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Kepada detikcom, ia menceritakan perjuangannya merintis usaha kopi dari skala rumahan sejak Mei 2022.
Berawal dari Iseng saat Pandemi
"Mei 2022 itu saat pandemi berdirinya Kopi Toejoean karena saat pandemi tidak bisa beraktivitas. Padahal, latar belakang saya sebelumnya adalah usaha pendidikan, membuka kursus baca tulis dan bahasa Inggris," kata Misye.
Pandemi COVID-19 sangat membatasi pergerakan masyarakat. Kebijakan work from home dari kantor swasta hingga pemerintah diterapkan. Akibatnya, usaha kursus milik Misye terhenti.
Dari situ, Misye menekuni hobinya, yaitu kopi. Ia mempelajari segala hal tentang kopi dan akhirnya belajar menjadi barista melalui berbagai pelatihan. "Saya ikut pelatihan barista gratis maupun berbayar. Yang tadinya saya tidak tahu barista itu kerjanya apa, sekarang jadi tahu banyak tentang kopi. Ternyata kopi ada robusta, arabika, dan lain-lain," ujar Misye.
Merintis Usaha di Tengah Pandemi
Misye berjejaring selama mengikuti pelatihan barista. Berdiskusi dengan teman satu komunitas, ia disarankan untuk membuka usaha kopi. Singkat cerita, usahanya berdiri meski tantangan masih harus dihadapi di tengah pandemi. Awalnya, usaha ini dipasarkan lewat WhatsApp dan media sosial. Setiap produk yang dibuat dipajang di media sosial dan dikirim ke teman-temannya. Dari situ, pintu terbuka.
"Iseng, kok, kenapa tidak usaha kopi saja. Memang dasarnya ingin tahunya terlalu tinggi kali ya," katanya. "Akhirnya teman-teman pada pesan. Saya juga tidak tahu, dulunya saya tidak berani cup. Awalnya saya pakai botol 250 ml. Intinya, saya mulai dari situ lewat teman-teman," tambahnya.
Usaha ini dipelajarinya dari awal. Perlahan tapi pasti dengan tekad pantang menyerah, Misye menjalankan usahanya hingga kini.
Go Digital Berkat Rumah BUMN BRI
Kopi Toejoean menjadi binaan Rumah BUMN Jakarta yang dikelola BRI sejak 2024. Rumah BUMN BRI merupakan wadah bagi pelaku UMKM untuk tumbuh dan naik kelas dengan memberikan pelatihan, inkubasi, hingga akses permodalan dan pasar.
Dari Rumah BUMN BRI yang berlokasi di Jl Letjen S Parman, Kemanggisan, Jakarta Barat, Misye mendapat banyak ilmu, terutama digitalisasi yang membantu perkembangan usahanya. "Saya dikasih banyak ilmu, kesempatan belajar digital. Semuanya serba digital, yang tadinya saya tidak mengerti sama sekali. Saya bukan orang background IT, sementara bersaing dengan gen-Z yang harus bisa media sosial," tutur Misye.
"Kita diajari cara bikin AI, desain, bikin cover. Juga diajak kunjungan urusan packaging, fotografi, laporan keuangan. Pokoknya semuanya serba digital," bebernya.
Di Rumah BUMN, Misye juga mendapat kesempatan menjual produknya di spot kafe untuk UMKM binaan. "Ada pelatihan khusus untuk inkubator. UMKM pilihan yang lolos kurasi diberi fasilitas dan kesempatan mengisi kafe selama 1 tahun," tuturnya.
Dari situ, usahanya makin dikenal masyarakat. Sejumlah perusahaan masih sering memesan produk Kopi Toejoean.
Omzet Puluhan Juta per Bulan
Saat ini, Kopi Toejoean memiliki omzet Rp20-25 juta per bulan. Usaha dijalankan dari rumah produksi di Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, dengan sistem take away. "Tidak dine in, lebih ke kopi to-go. Datang, beli, diambil," kata Misye.
Misye dibantu 1 barista dan 1 admin. Ia juga memberi kesempatan kepada anak sekolah kejuruan untuk menjadi tim kreatif. "Ada 7 anak SMK yang seperti PKL, saya bawa sebagai tim kreatif. Ada yang pegang media sosial IG, TikTok, dan website. Mereka datang setiap Sabtu ke rumah," sebut Misye.
Menu Khas dan Harapan ke Depan
Kopi Toejoean memiliki menu khas seperti kopi gula aren, kopi susu, americano, serta non-kopi seperti choco latte, green tea latte, dan jeruk peras. Produknya pernah dipesan perusahaan hingga ratusan cup. "Ada perusahaan yang pesan 600 cup, 700 cup untuk acara," ujarnya.
Misye berharap usahanya makin maju dan bisa melahirkan barista-barista berbakat. "Saya ingin memberikan efek kepada lingkungan atau generasi gen-Z. Saya ingin menularkan barista-barista baru," katanya.
Dukungan Rumah BUMN BRI
Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, menyatakan bahwa Rumah BUMN BRI fokus mendorong digitalisasi UMKM agar lebih dikenal dan mampu memperluas pasar hingga ekspor. "Kita mendorong ke digitalisasinya," katanya.
Saat ini BRI mengelola 54 Rumah BUMN sebagai wadah kolaborasi ekonomi digital UMKM. "Di Rumah BUMN, pelaku usaha mendapat pelatihan kewirausahaan, pendampingan digital, akses permodalan, dan jejaring pasar," ujar Jajang.



