Menteri Transmigrasi (Mentrans) Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong industrialisasi berbasis potensi daerah sebagai strategi pengembangan ekonomi. Dalam media gathering Kementrans di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026), ia mencontohkan potensi kelapa di Halmahera Utara, Maluku Utara, yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi signifikan.
Potensi Kelapa Halmahera Utara dan Dampak Ekonominya
Iftitah menyebutkan bahwa di Halmahera Utara terdapat sekitar 6,9 juta pohon kelapa. "Di Halmahera Utara itu ada kelapa, potensinya kelapa. Ada 6.900.000 pohon kelapa. Ya, 6.900.000 pohon kelapa, ada kawasan transmigrasi misalnya, isinya kelapa semua," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa industrialisasi yang diinisiasi di daerah tersebut menciptakan nilai tambah ekonomi yang luar biasa. "Tidak lagi memetik kelapa, menjual kelapa mentah. Tapi ada susu kelapa, ada air kelapa, ada dagingnya sendiri kelapa, bisa kelapa itu dibikin kosmetik. Bahkan yang terakhir sekarang, sabut kelapanya dia ekspor. Jadi dari satu komoditas saja turunannya itu banyak," sambungnya.
Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi Lokal
Iftitah mengungkapkan bahwa industri kelapa di Halmahera Utara mampu membuka sekitar 4.000 lapangan pekerjaan, dengan 85 persen di antaranya berasal dari warga lokal. "Kelapa stay di situ, diolah oleh industri. Nah, tumbuhlah, menciptakan lapangan kerja untuk industrinya saja itu sekitar 4.000, 85 persen dari masyarakat lokal. Visual saja kelihatan, ada supermarket, terus kemudian ada restoran, tumbuh pula, secara visual saja sudah kelihatan," katanya.
Produksi kelapa di Halmahera Utara mencapai 620 juta butir kelapa per tahun. Hal ini membuat kawasan tersebut mampu menyuplai kebutuhan kelapa ke China. "Sekarang kita lihat market-nya, pasarnya, Tiongkok, satu negara saja, per tahun itu menghabiskan konsumsinya 4 miliar butir kelapa. Mereka hanya mampu memenuhi 1 miliar butir kelapa, berarti ada gap 3 miliar butir kelapa. Bayangkan, dari Halmahera Utara saja bisa memenuhi 1,5 sampai 1,8," jelas Iftitah.
Potensi Mangga Pasuruan dan Peluang Ekspor ke Jepang
Dalam kesempatan yang sama, Iftitah juga menyinggung potensi mangga di Pasuruan. Ia menceritakan pengalamannya saat bertugas di daerah tersebut. "Saya jadi petani mangga, ternyata suhunya beda, jam karetnya beda, sinar mataharinya beda, itu yang membuat mangga Pasuruan beda," katanya.
Iftitah berandai-andai jika menjadi Bupati Pasuruan, ia akan menanam mangga secara besar-besaran. "Tidak ada yang sehebat mangga Pasuruan. Kalau saya jadi Bupati Pasuruan, tidak boleh ada satu jengkal pun di Pasuruan yang tidak ditanami mangga, arumanis. Harus begitu. Karena itu kekayaan yang diberikan oleh Tuhan," ujarnya.
Pentingnya Pendekatan End-to-End dalam Industrialisasi
Iftitah mendorong industri mangga dibangun secara end-to-end, mulai dari hulu hingga hilir. Ia menyebut Jepang memiliki minat besar terhadap mangga Indonesia, namun selama 20 tahun mangga Indonesia belum bisa masuk ke pasar Jepang. "Sudah 20 tahun mangga kita tidak bisa masuk ke Jepang, padahal orang Jepang menginginkan. Kenapa? Karena kita tidak pernah end-to-end. Harusnya kita tanya dulu orang Jepang, gimana supaya masuk, 'Oh, hamanya, ininya, itunya,' baru ke hulunya, kita ikuti, pengemasannya, sampai nyampe sana," pungkasnya.



