Novita Hardini Soroti Beban PPN Ganda dan Krisis Layar Film Indonesia
Novita Hardini Soroti PPN Ganda dan Krisis Layar Film

Novita Hardini Soroti Beban PPN Ganda dan Minimnya Insentif Film: Industri Kreatif Kita Sedang Tercekik

Anggota Komisi VII DPR Novita Hardini menilai industri perfilman nasional membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat dari pemerintah. Hal ini disampaikannya dalam rapat kerja di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Jakarta, pada Rabu 8 April 2026.

Isu Krusial yang Disoroti Novita Hardini

Novita Hardini menyoroti sejumlah isu krusial yang tengah dihadapi industri perfilman nasional. Adapun yang disoroti Novita di antaranya:

  • Beban Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ganda yang memberatkan pelaku industri.
  • Ketiadaan insentif promosi pariwisata melalui film oleh pemerintah.
  • Krisis jumlah layar bioskop yang dinilai sudah mencapai titik antrian panjang tidak manusiawi.

Politikus PDIP ini menekankan bahwa skema perpajakan saat ini sangat memberatkan pelaku industri kreatif. Menurutnya, pengenaan PPN di tingkat produksi yang kemudian bertemu lagi dengan pajak di tingkat distribusi atau eksibisi menciptakan beban ganda yang menggerus margin keuntungan sineas lokal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Bagaimana industri film kita mau bersaing di level global jika sejak tahap produksi saja mereka sudah terbebani PPN ganda? Ini adalah disinsentif bagi kreativitas. Kita butuh reformasi kebijakan pajak yang lebih berpihak pada pertumbuhan ekosistem kreatif, bukan justru mencekiknya," kata Novita dalam keterangannya, Kamis 9 April 2026.

Minimnya Dukungan untuk Integrasi Film dan Pariwisata

Lebih lanjut, Novita menyayangkan minimnya dukungan pemerintah dalam mengintegrasikan industri film dengan sektor pariwisata. Padahal, menurutnya, film merupakan media promosi destinasi daerah yang paling efektif atau dikenal sebagai film induced tourism.

Dia pun mendorong adanya insentif khusus bagi rumah produksi yang mengangkat potensi daerah. Novita menjelaskan:

  1. Kebutuhan kebijakan: pemberian bantuan fiskal atau kemudahan perizinan lokasi bagi film yang mempromosikan destinasi wisata prioritas.
  2. Dampak: meningkatkan ekonomi lokal di daerah syuting sekaligus memperkuat nation branding Indonesia.

Krisis Layar: Antrean Pemutaran Film Sudah Tidak Manusiawi

Isu yang paling menyita perhatian adalah terbatasnya jumlah layar bioskop di Indonesia yang tidak sebanding dengan pesatnya produktivitas karya anak bangsa. Novita menyebut fenomena "antrean panjang" pemutaran film di layar lebar sudah berada pada tahap yang merugikan secara ekonomi dan psikis bagi para kreator.

"Banyak film berkualitas yang harus mengantre berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hanya mendapatkan jatah tayang beberapa hari karena harus bergantian dengan film lain. Ini tidak manusiawi bagi produser yang sudah berinvestasi besar," jelas dia.

Novita menambahkan, "Kita butuh percepatan distribusi layar ke daerah-daerah agar akses menonton tidak hanya terpusat di kota besar. Film bukan sekadar hiburan, tapi kekuatan ekonomi baru dan identitas bangsa. Jika regulasinya tidak kita benahi sekarang, kita akan terus menjadi penonton di rumah sendiri."

Dengan demikian, Novita Hardini menyerukan reformasi kebijakan yang mendesak untuk menyelamatkan industri perfilman nasional dari tekanan beban pajak, kurangnya insentif, dan krisis infrastruktur layar yang menghambat pertumbuhannya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga