JAKARTA - Sebuah film pendek asal Jakarta berhasil menembus ajang Balinale International Film Festival 2026 dan masuk dalam program Tapestry of Indonesia. Film berjudul Sound of Silence yang diproduksi oleh Studio Tabula ini lahir dari pengalaman sederhana sang sutradara, Gavrila Angelina, bersama Barmastya Bhumi Brawijaya, putra sulung dari sutradara terkenal Hanung Bramantyo.
Inspirasi dari Earphone yang Hilang
Ide cerita Sound of Silence berawal dari pengalaman pribadi Gavrila saat masih rutin melakukan perjalanan pulang-pergi dari Tangerang Selatan ke Jakarta. Suatu hari, earphone yang biasa menemaninya selama perjalanan tertinggal dan akhirnya hilang. Kejadian kecil ini kemudian berkembang menjadi sebuah kisah yang penuh makna tentang keheningan dan introspeksi.
Proses Kreatif
Gavrila Angelina mengaku bahwa kehilangan earphone tersebut justru membuka matanya terhadap suara-suara di sekitarnya yang selama ini terlewatkan. Ia mulai merekam suara-suara ambient di kereta, stasiun, dan jalanan Jakarta. Rekaman-rekaman itu kemudian menjadi elemen penting dalam film Sound of Silence, yang mengajak penonton untuk merenungkan pentingnya mendengarkan.
Barmastya Bhumi Brawijaya, yang akrab disapa Bisma, turut berperan sebagai produser. Keterlibatannya memberikan perspektif segar dalam penggarapan film ini. Kolaborasi antara Gavrila dan Bisma menghasilkan karya yang unik dan personal.
Apresiasi di Kancah Internasional
Sound of Silence mendapat sambutan positif saat ditayangkan di Balinale International Film Festival. Film ini dinilai mampu menyampaikan pesan universal tentang keheningan dan kesadaran melalui medium yang sederhana namun kuat. Keikutsertaan dalam Tapestry of Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi sineas Tanah Air.
Gavrila berharap film ini dapat menginspirasi penonton untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan menemukan keindahan dalam hal-hal kecil. Sound of Silence menjadi bukti bahwa ide sederhana bisa menghasilkan karya yang bermakna dan diakui di tingkat internasional.



