Makanan Favorit Pinggir Jalan Mengandung Lemak Jenuh Tinggi
Masyarakat Indonesia sangat akrab dengan jajanan pinggir jalan seperti martabak manis, telur gulung, dan aneka gorengan. Meski lezat dan terjangkau, makanan-makanan ini ternyata memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, melalui akun Instagram pribadinya @bgsadikin pada Selasa (23/6/2026), mengakui bahwa dirinya juga menyukai ketiga menu tersebut.
Dalam unggahannya, Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi jajanan tersebut. Lemak jenuh yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, obesitas, dan gangguan kesehatan lainnya. Menurut data Kementerian Kesehatan, konsumsi lemak jenuh yang tinggi menjadi salah satu faktor utama penyebab penyakit tidak menular di Indonesia.
Kandungan Lemak Jenuh pada Jajanan Populer
Martabak manis, yang terbuat dari adonan tepung, telur, dan margarin, mengandung lemak jenuh dari margarin dan telur. Telur gulung, yang digoreng dengan minyak banyak, juga memiliki kandungan lemak jenuh yang signifikan. Gorengan seperti pisang goreng, tahu isi, dan bakwan, yang digoreng dengan minyak panas, menyerap banyak minyak sehingga kadar lemak jenuhnya tinggi.
Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa bukan berarti masyarakat harus berhenti mengonsumsi makanan tersebut, tetapi perlu bijak dalam porsi dan frekuensinya. "Saya juga suka makan martabak manis, telur gulung, dan gorengan. Tapi kita harus tahu batasannya," ujarnya dalam unggahan tersebut.
Tips Mengonsumsi Jajanan Pinggir Jalan dengan Aman
Untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat disarankan untuk membatasi konsumsi jajanan pinggir jalan yang digoreng atau mengandung banyak lemak. Alternatifnya, pilihlah jajanan yang direbus, dikukus, atau dipanggang. Selain itu, perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk menyeimbangkan asupan nutrisi.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau para penjual untuk menggunakan minyak goreng yang sehat dan tidak dipakai berulang kali. Minyak goreng bekas pakai mengandung lemak trans yang lebih berbahaya bagi kesehatan. Dengan kesadaran bersama, masyarakat tetap bisa menikmati kuliner khas Indonesia tanpa mengorbankan kesehatan.



