Warga Palu Masih Trauma, Pilih Tidur di Luar Rumah
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, masih menyisakan ketakutan mendalam bagi masyarakat. Sejumlah warga terpaksa memilih untuk tidur di luar rumah karena khawatir terjadi gempa susulan yang dapat membahayakan keselamatan mereka.
Berdasarkan pantauan pada Selasa malam, warga di Kelurahan Nunu, Kota Palu, tampak berkumpul di teras dan halaman rumah. Mereka menyiapkan tempat istirahat darurat dengan menggelar tikar dan kasur untuk bermalam. Warga enggan masuk ke dalam rumah karena masih trauma dan khawatir gempa susulan terjadi saat mereka tertidur lelap.
Salah seorang warga, Fatir, mengaku masih merasakan trauma akibat getaran gempa yang kuat. Guncangan tersebut membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. "Masih takut masuk rumah. Tadi siang gempanya kuat. Siapa tahu masih ada susulan lagi, lebih baik kita tidur di luar dulu," ujar Fatir kepada wartawan pada Selasa malam.
Kondisi serupa juga terlihat di beberapa titik permukiman lainnya di Kota Palu. Warga memilih tetap berada di area terbuka sambil memantau perkembangan informasi dari pemerintah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hingga malam hari, suasana di sejumlah lingkungan perumahan masih dipenuhi warga yang berjaga bersama keluarga. Sebagian warga juga menyiapkan kendaraan sebagai langkah antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi guncangan susulan.
Warga lainnya, Burhanuddin, menyampaikan kekhawatirannya. "Tadi lihat berita ada sudah tujuh puluh lebih kali gempa. Kita masih takut, makanya malam ini istirahat di luar saja," katanya kepada wartawan.
BMKG sebelumnya mencatat telah terjadi lebih dari 70 kali gempa susulan setelah gempa utama M 6,7. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran warga untuk kembali ke dalam rumah. Pemerintah setempat terus mengimbau warga untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari otoritas terkait.



