Lonjakan Penumpang Study Tour di KRL Solo-Yogya
Musim liburan sekolah yang seharusnya menjadi momen menyenangkan bagi pelajar justru memicu keluhan dari para pekerja harian pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) di jalur Solo-Yogyakarta. Di media sosial, terutama platform Threads, ramai unggahan dari pekerja yang mengaku harus berdesak-desakan dengan rombongan anak-anak TK dan SD yang sedang study tour. Rute yang menjadi sorotan adalah Solo-Yogya dan sebaliknya, dengan titik kepadatan di stasiun Palur dan Maguwo.
Keluhan Pekerja di Media Sosial
Salah satu pengguna dengan akun V**** mengungkapkan kekesalannya di Threads setelah naik KRL dari Palur pada pukul 10.40 WIB. Ia melihat banyak anak-anak study tour yang memenuhi gerbong. "Apakah sekarang KRL sering dipake buat study tour anak TK/SD ya? Inikan transum," tulisnya, merujuk pada transportasi umum yang seharusnya menjadi moda utama para pekerja.
Menurutnya, kehadiran rombongan anak-anak di jam kerja (weekday) menimbulkan ketidaknyamanan karena ruang gerak menjadi sempit dan suara bising. Ia pun mempertanyakan kebijakan penggunaan KRL untuk kegiatan study tour yang dinilai mengganggu fungsi utama KRL sebagai transportasi komuter.
Dampak pada Kenyamanan dan Efisiensi
Fenomena ini bukan hanya soal desak-desakan fisik. Para pekerja mengaku waktu tempuh mereka menjadi lebih lama karena proses naik-turun penumpang yang lebih lambat. Selain itu, kapasitas gerbong yang terbatas membuat beberapa pekerja terpaksa menunggu kereta berikutnya. Seorang pekerja lain yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Kalau lagi musim liburan begini, saya harus berangkat lebih pagi atau lebih siang untuk menghindari rombongan study tour. Ini mengganggu produktivitas."
Sementara itu, pihak operator KRL belum memberikan pernyataan resmi mengenai keluhan ini. Namun, beberapa warganet menyarankan agar rombongan study tour diatur jadwalnya di luar jam sibuk, atau menggunakan moda transportasi khusus seperti bus wisata.
Solusi yang Diharapkan
Para pekerja berharap ada pengaturan yang lebih baik dari pihak terkait, baik sekolah, operator KRL, maupun Dinas Perhubungan. Mereka meminta agar study tour yang menggunakan KRL tidak dilakukan pada jam sibuk pagi dan sore hari. Alternatif lain, sekolah dapat memilih moda transportasi yang lebih sesuai untuk rombongan besar, sehingga kenyamanan pengguna KRL harian tetap terjaga.
Keluhan ini menjadi pengingat bahwa transportasi publik harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan tanpa saling mengorbankan. Di tengah momen liburan sekolah, keseimbangan antara kepentingan pendidikan dan mobilitas pekerja perlu dicari solusinya.



