Ketegangan antara FIFA, UEFA, dan negara-negara anggota mencapai titik puncak, memicu spekulasi tentang kemungkinan pemisahan sepak bola global dari induk organisasinya. Presiden AS Donald Trump mengklaim dirinya yang menyebabkan FIFA membatalkan larangan bermain akibat kartu merah bagi penyerang AS, Folarin Balogun, sebelum kekalahan dari Belgia di babak 16 besar Piala Dunia. FIFA dan Presiden Gianni Infantino bersikeras keputusan itu diambil oleh Komite Disiplin yang independen, dengan alasan penundaan hukuman berdasarkan pasal 27 statuta FIFA.
Kontroversi dan Ketidakpuasan terhadap FIFA
Berbagai kontroversi, seperti harga tiket melambung, penolakan visa bagi suporter dan ofisial, serta hubungan erat Infantino dengan Trump, telah menggerus kepercayaan terhadap FIFA. Pemberian Penghargaan Perdana perdana FIFA kepada Trump pada Desember lalu memicu kritik, terutama karena dilakukan tak lama sebelum Trump memulai perang dengan Iran, salah satu peserta Piala Dunia 2026. Kebijakan rotasi tuan rumah Piala Dunia juga dipersoalkan, karena pembukaan jalan bagi Arab Saudi untuk menjadi tuan rumah 2034 tanpa pesaing, jauh lebih awal dari jadwal Asia yang seharusnya pada 2042.
Kekuasaan FIFA dan Sistem Patronase
FIFA bertanggung jawab atas pengembangan sepak bola global sekaligus operator komersial. Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub yang diperluas menjadi sumber pendapatan utama. Namun, kalender pertandingan yang padat menuai keluhan pemain. "Saya rasa para pemain tidak terlalu didengarkan, kalau boleh jujur," kata penyerang Bayern Munchen dan timnas Inggris, Harry Kane. Secara struktural, 211 anggota FIFA memiliki satu suara setiap empat tahun untuk memilih presiden. Miguel Maduro, mantan Ketua Komite Tata Kelola FIFA, mengatakan: "Dimensi komersial adalah fondasi sistem kekuasaan FIFA. Uang digunakan oleh para presiden untuk mengumpulkan dan mengonsolidasikan kekuasaan mereka." Ia menambahkan, sistem patronase membuat presiden hampir tidak pernah ditantang.
Tekanan Politik dan Uni Eropa
Nick McGeehan dari FairSquare menyerukan intervensi politik, terutama dari Uni Eropa, untuk mereformasi FIFA. "Perlu ada intervensi politik. Tidak ada cara lain untuk memperbaiki FIFA," katanya. FairSquare mengajukan pengaduan ke Komite Etik FIFA terkait hubungan Infantino dengan Trump. Sementara itu, Football Supporters Europe (FSE) dan Euroconsumers mengajukan pengaduan ke Komisi Eropa tentang harga tiket. Juru bicara Komisi Eropa menyatakan pengaduan sedang diproses sesuai prosedur standar, namun menegaskan bahwa hukum Uni Eropa tidak mengatur tingkat harga tiket, meskipun pelaku usaha harus memberikan informasi yang memadai dan menghindari praktik menyesatkan.
Ketegangan UEFA-FIFA dan Potensi Pemisahan
Hubungan FIFA dengan UEFA semakin tegang, terutama setelah kasus Balogun. UEFA menganggap FIFA "melewati batas" dan menyatakan "tidak percaya terhadap keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya." Ketegangan juga terlihat ketika UEFA menunjuk wasit asal Somalia, Omar Artan, untuk memimpin final Piala Super Eropa setelah ia ditolak masuk AS untuk memimpin Piala Dunia. "Sepak bola diciptakan untuk menghubungkan orang," kata Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Tahun lalu, delegasi UEFA meninggalkan Kongres FIFA sebagai protes. Geoff Walters, profesor bisnis olahraga di University of Liverpool, mengatakan: "Jika suatu saat terjadi pemisahan dalam sepak bola, itu kemungkinan harus dipelopori oleh UEFA atau sekelompok negara anggota UEFA. Namun, risikonya besar karena bisa kehilangan peluang menjadi tuan rumah turnamen."
Posisi Negara Kecil dan Investasi FIFA
Pengaruh Eropa dan Amerika Selatan melemah dibandingkan basis dukungan Infantino di Asia dan Afrika. Walters menambahkan: "Jika pemisahan dipimpin oleh negara-negara besar, bagaimana nasib negara-negara kecil?" Meskipun banyak kritik, Infantino bersikeras bahwa pendapatan FIFA kembali ke sepak bola. "Setiap dolar yang kami hasilkan akan kembali ke sepak bola. Kami berinvestasi di negara-negara yang tidak dilirik siapa pun, seperti Sudan Selatan dan Bhutan. Tidak ada pihak lain yang melakukan itu," katanya. Untuk saat ini, tidak ada organisasi lain yang memiliki mandat dan sumber daya seperti FIFA, sehingga kemungkinan pemisahan masih kecil. Kecuali ada federasi, aliansi negara, atau tokoh berpengaruh yang berani mengambil langkah, peluang reformasi tampak sedikit lebih besar dibanding sebelumnya.



