Uji Coba Rudal China di Pasifik Selatan Picu Kekhawatiran Negara Tetangga
Uji Coba Rudal China Picu Kekhawatiran Pasifik

Pada Senin (06/07), Angkatan Laut China melakukan uji coba rudal di Pasifik Selatan. Media pemerintah China melaporkan bahwa sebuah kapal selam nuklir menembakkan rudal yang membawa hulu ledak tiruan ke perairan internasional. Uji coba tersebut langsung memicu kritik keras dari sekutu Amerika Serikat di kawasan Pasifik.

Reaksi Negara-Negara Pasifik

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyatakan bahwa uji coba China tersebut mengganggu stabilitas keamanan regional. Jepang juga mendesak China untuk meninjau kembali tindakannya. Selandia Baru menegaskan tidak ingin China menjadikan Pasifik Selatan sebagai lokasi uji coba rudal. "Kami sangat prihatin dengan uji coba senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir yang dilakukan China di Pasifik Selatan," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, di Wellington.

Detail Uji Coba Rudal Julang-3

Meskipun belum ada pernyataan resmi mengenai rincian lengkap uji coba itu, pakar militer China berspekulasi bahwa rudal yang diuji adalah rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam dengan nomor seri Julang (JL)-3. "Rudal itu adalah rudal balistik antarbenua yang diluncurkan dari kapal selam dengan nomor seri Julang (JL)-3," tulis Letnan Kolonel Zhang Junshe, peneliti dari Institut Riset Akademik Militer Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Julang-3, yang berarti "Gelombang Raksasa-3", masih dalam tahap pengembangan dan memiliki jangkauan maksimum sekitar 12.000 kilometer, mampu membawa beberapa hulu ledak nuklir sekaligus. Hingga kini, tiga uji coba berhasil dilaporkan antara tahun 2018 hingga 2019.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Strategi Penangkal Nuklir China

Zhang menambahkan bahwa senjata tersebut dirancang sebagai alat penangkal serangan nuklir yang menyeluruh. "Bahkan jika seluruh sistem persenjataan militer lainnya dilumpuhkan, kapal selam China tetap memiliki kemampuan penuh untuk melancarkan serangan balasan nuklir," tulisnya. Rudal Julang-3 diyakini diluncurkan dari kapal selam nuklir Tipe 094 Jin, yang mampu beroperasi di bawah laut selama 70 hari dengan awak 120 pelaut. Saat ini, Angkatan Laut China memiliki enam kapal selam Tipe 094 yang aktif.

Konteks Historis dan Kekhawatiran Berkelanjutan

Pada September 2024, China telah meluncurkan rudal balistik antarbenua dari daratan menuju Pasifik Selatan, yang jatuh di area target di Polinesia Prancis. Peluncuran itu menjadi uji coba rudal jarak jauh pertama China yang melintasi perairan internasional dalam lebih dari 40 tahun. China menegaskan bahwa negara tetangga telah diberi pemberitahuan dan latihan tersebut tidak ditujukan kepada negara tertentu. Namun, kekhawatiran akan keamanan meningkat. Felix Heiduk, Kepala Kelompok Riset Asia di lembaga pemikir Jerman Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP), menulis pada 2024 bahwa China secara agresif menantang arsitektur keamanan regional yang dipimpin AS. Sam Roggeveen dan David Vallance dari Lowy Institute Australia, dalam studi Juni 2026, menyatakan bahwa jika terjadi konflik regional besar, pangkalan-pangkalan di Australia utara akan menjadi sasaran. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di sela-sela pertemuan puncak NATO di Ankara, Turki, mengatakan, "Ini adalah bukti lebih lanjut bahwa kita tidak boleh bersikap naif... dan memang kita tidak naif."

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga