Mendikdasmen Akui Kurang Lagu Anak, Banyak yang Nyanyi Lagu Dewasa
Mendikdasmen Akui Kurang Lagu Anak, Banyak Nyanyi Lagu Dewasa

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengakui bahwa saat ini terjadi kekurangan lagu anak-anak di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran Aktivasi Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada Senin (7/6/2026) malam.

Kritik Terhadap Minimnya Lagu Anak

Mu'ti mengungkapkan bahwa dirinya menerima banyak kritik terkait kurangnya lagu anak-anak. "Kami mencoba memenuhi kekurangan lagu anak, karena saya mendapat banyak sekali kritik lagu anak-anak itu kurang," ujar Mu'ti.

Menurutnya, kondisi ini mendorong anak-anak untuk lebih banyak menyanyikan lagu-lagu dewasa daripada lagu yang sesuai dengan usia mereka. Hal ini menjadi perhatian serius karena lagu anak memiliki peran penting dalam perkembangan dan pendidikan karakter.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fenomena Anak Menyanyikan Lagu Dewasa

Mu'ti menambahkan, anak-anak saat ini lebih akrab dengan lagu-lagu yang sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Fenomena ini terjadi karena minimnya produksi lagu anak yang berkualitas dan mudah diakses. Padahal, lagu anak dapat menjadi media pembelajaran yang efektif serta sarana hiburan yang mendidik.

Pemerintah melalui Kemendikdasmen berencana untuk menggalakkan kembali penciptaan lagu anak-anak. Langkah ini diharapkan dapat mengembalikan budaya bernyanyi lagu anak di kalangan generasi muda.

Upaya Pemerintah Mengatasi Kekurangan Lagu Anak

Dalam upaya mengatasi masalah ini, Kemendikdasmen akan bekerja sama dengan para pencipta lagu, musisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Program ini juga akan melibatkan sekolah-sekolah untuk memperkenalkan dan membiasakan anak-anak dengan lagu-lagu yang sesuai.

"Kami akan berusaha menyediakan lebih banyak lagu anak yang mendidik dan menghibur. Ini bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah," tegas Mu'ti.

Dengan adanya gerakan ini, diharapkan anak-anak Indonesia dapat kembali menikmati lagu-lagu yang kaya akan nilai moral dan kearifan lokal, serta mengurangi pengaruh lagu dewasa yang belum tentu sesuai dengan usia mereka.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga