Sekolah Rakyat Jadi Titik Balik Siswi di Surakarta Kejar Masa Depan
Sekolah Rakyat Jadi Titik Balik Siswi di Surakarta

Bagi Aisyah Nur Aini, bersekolah dulu terasa seperti kemewahan. Namun, setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat, hidupnya berubah drastis. Siswi kelas X Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, Jawa Tengah, ini berasal dari keluarga pekerja keras. Ayahnya bekerja sebagai tukang loak, sementara ibunya, Uti Rahayu, berjualan nasi goreng, mi, dan nasi bandeng di depan rumah. Saat dagangan sepi, Uti tetap berusaha dengan mengumpulkan kardus bekas untuk dijual kembali.

Rumah Sederhana, Harapan Besar

Aisyah dan keluarganya tinggal di rumah sederhana di kawasan Bororejo Jagalan, Surakarta. Dinding rumah masih batu bata tanpa plester. Namun, dari ruang sederhana itu, harapan besar perlahan tumbuh. Kesempatan masuk Sekolah Rakyat mengubah keseharian Aisyah. Untuk pertama kalinya, ia bisa belajar tanpa dibayangi kekhawatiran biaya. Kebutuhan seperti seragam, sepatu, makan tiga kali sehari, hingga laptop telah tersedia.

Fasilitas yang Mengubah Segalanya

Bagi sebagian orang, fasilitas itu mungkin biasa. Namun bagi Aisyah, semuanya menjadi titik balik untuk mengejar masa depan. "Karena di sini fasilitasnya baik dan bisa memenuhi kebutuhan saya, saya ingin mencapai cita-cita saya," ujar Aisyah dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026). Sejak bersekolah di sana, kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Ia berani mengikuti berbagai kegiatan dan menunjukkan kemampuannya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Prestasi di Berbagai Bidang

Aisyah meraih juara 2 bulutangkis tunggal putri dalam class meeting, sesuai hobinya bermain badminton. Ia juga meraih juara 2 Wiru Jarik pada peringatan Hari Kartini. Prestasi itu sederhana, tetapi berarti baginya. Dari sana, ia mulai membangun rasa percaya diri yang sebelumnya belum sepenuhnya dimiliki.

Cita-cita Menjadi Dokter

Aisyah bercita-cita menjadi dokter. Di sekolah, ia dikenal aktif dan mudah bergaul. Ia aktif di Palang Merah Remaja (PMR) dan dipercaya menjadi delegasi Forum Remaja Palang Merah Indonesia (FORPIS). Dalam belajar, ia menyukai pembelajaran praktik, berani menyampaikan pendapat, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya.

Tekad untuk Masa Depan

Kini, Aisyah belajar lebih serius dan berlatih lebih disiplin. Ia memahami bahwa fasilitas yang diterimanya adalah pintu pembuka, sementara masa depan tetap harus diperjuangkan dengan kerja keras. "Setelah saya sekolah di sini, saya ingin menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan orang tua," katanya. Kalimat itu menjadi tekadnya untuk membalas perjuangan orang tuanya. Dari rumah sederhana, dari dapur kecil tempat ibunya berjualan, dan dari kardus-kardus bekas yang dikumpulkan satu per satu, Aisyah mulai menata langkah menuju masa depan impian.

Harapan Sang Ibu

Perubahan Aisyah turut dirasakan ibunya. Uti melihat putrinya berkembang dalam prestasi dan kepercayaan diri. Saat diminta menyampaikan harapan, suara Uti sempat tertahan. "Saya berharap anak saya bisa sukses, bisa membanggakan orang tua," ucapnya terbata-bata. Ia kemudian menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kesempatan yang dimiliki anaknya. "Terima kasih Pak Presiden, anak saya bisa sekolah. Saya sangat senang, bangga, bersyukur," tutup sang ibu.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga