Bank Dunia (World Bank) secara resmi menaikkan status Sri Lanka menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas (upper-middle-income country) pada tahun 2026. Prestasi ini diraih hanya tiga tahun setelah negara kepulauan tersebut mengalami krisis ekonomi terburuk yang sempat membawanya ke ambang kehancuran.
Klasifikasi Pendapatan Terbaru
Dalam pembaruan klasifikasi pendapatan yang dirilis pada Rabu (1/7/2026), Bank Dunia mengklasifikasikan ulang Sri Lanka dari kelompok negara berpenghasilan menengah ke bawah. Langkah ini didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen sepanjang tahun 2025.
Menurut Bank Dunia, pertumbuhan tersebut ditopang oleh pemulihan yang merata di berbagai sektor, terutama industri, pariwisata, dan jasa keuangan. Sektor-sektor ini menjadi motor utama dalam mendorong pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita Sri Lanka melewati ambang batas yang ditetapkan untuk kategori negara berpenghasilan menengah ke atas.
Pemulihan Cepat Pasca Krisis
Pencapaian ini menjadi sorotan karena Sri Lanka baru saja keluar dari krisis ekonomi yang parah pada tahun 2022. Krisis tersebut ditandai dengan kekurangan devisa, inflasi tinggi, dan pemadaman listrik yang melumpuhkan aktivitas ekonomi. Pemerintah Sri Lanka bersama lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), telah menjalankan program reformasi dan bantuan keuangan untuk memulihkan stabilitas.
“Kenaikan status ini merupakan bukti kerja keras rakyat Sri Lanka dan efektivitas kebijakan pemulihan yang diterapkan,” ujar perwakilan Bank Dunia dalam pernyataan resmi.
Dampak Klasifikasi Baru
Sebagai negara berpenghasilan menengah ke atas, Sri Lanka kini akan memiliki akses yang berbeda terhadap pinjaman dan bantuan internasional. Meskipun demikian, status ini juga membawa tantangan baru, seperti persyaratan yang lebih ketat dalam memperoleh pinjaman lunak. Bank Dunia menekankan bahwa Sri Lanka perlu terus menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat ketahanan ekonomi agar tidak kembali terpuruk.
Data Bank Dunia menunjukkan bahwa Sri Lanka berhasil meningkatkan GNI per kapita dari sekitar US$3.600 pada tahun 2023 menjadi lebih dari US$4.500 pada tahun 2025, melampaui batas bawah kategori menengah ke atas yang sebesar US$4.466.
Prospek ke Depan
Para ekonom memperingatkan bahwa pemulihan Sri Lanka masih rentan terhadap guncangan eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi global. Namun, dengan diversifikasi sektor dan reformasi struktural yang berkelanjutan, Sri Lanka diharapkan dapat mempertahankan status barunya dan melanjutkan pertumbuhan inklusif.



