Suatu malam, sepulang dari kantor dan belum sempat berganti pakaian, saya disambut oleh ocehan istri saya yang bercerita penuh semangat tentang pengalamannya hari itu. "Hari ini ajaib banget, deh. Aku kan tadi ke salon. Berangkat naik GoCar, bapaknya tiba-tiba nyerocos soal pemerintah. Di salon, Mas Salon-nya, kok ya, ngajakin ngobrolnya soal pemerintah. Pulangnya aku naik GoCar lagi, eh Bapaknya, kok, ngomongin pemerintah lagi. Semua obrolan itu isinya keluhan ke pemerintah. Mereka merasa kondisi ekonomi kita suram," begitu cerita istri saya.
Pengalaman Serupa di Berbagai Kesempatan
Peristiwa pergi ke salon itu terjadi beberapa bulan lalu, jauh sebelum aksi unjuk rasa mahasiswa belakangan ini. Saya pun memiliki pengalaman yang sama dengan istri. Beberapa kali saya bertemu dengan sejumlah kawan yang bekerja di beragam industri. Anehnya, topik yang spontan mereka obrolkan adalah sama, dengan nada yang juga muram. Mereka semua mengeluhkan kondisi ekonomi yang semakin sulit.
Hal ini menunjukkan bahwa keresahan ekonomi sudah meluas di kalangan masyarakat. Tidak hanya di kalangan pekerja informal seperti supir GoCar atau pegawai salon, tetapi juga di kalangan profesional dari berbagai sektor. Keluhan yang sama terdengar di mana-mana, menandakan adanya masalah struktural yang perlu segera diatasi.
Pemerintah diharapkan lebih peka terhadap aspirasi rakyat dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Jangan sampai keluhan yang terus berulang ini berujung pada ketidakstabilan sosial yang lebih besar.



