Wamen LH Kesal Warga Jadikan Kebakaran TPA Jatiwaringin sebagai Tontonan
Wamen LH Kesal Warga Tonton Kebakaran TPA Jatiwaringin

Wamen LH Kesal dengan Warga yang Menonton Kebakaran TPA Jatiwaringin

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH), Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengungkapkan kekesalannya terhadap warga yang justru menjadikan proses pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, sebagai tontonan. Ia menegaskan bahwa kebakaran ini sangat berbahaya dan bukanlah hiburan yang layak ditonton.

Kekesalan Diaz muncul setelah menerima laporan dari Kapolresta Tangerang, Kombes Andi Muhammad Indra Waspada, yang mengaku kesulitan mengendalikan warga yang berkerumun di sekitar lokasi kebakaran. Sejak hari pertama hingga hari kelima, banyak masyarakat yang penasaran dan ingin melihat langsung ke titik api.

"Memang semenjak hari pertama kami bertugas di sini sampai hari kelima ini, banyak masyarakat yang ingin melihat ke sini, Pak Wamen," ucap Indra saat memberikan laporan kepada Diaz, Sabtu (4/7/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Warga Menganggap Kebakaran sebagai Hiburan Saat Liburan

Menurut Kapolresta, warga sekitar TPA beralasan bahwa saat ini merupakan masa liburan, sehingga menonton kebakaran dianggap sebagai aktivitas hiburan. Bahkan, ada warga yang memprotes petugas yang melarang mereka mendekat.

"Dikarenakan saat ini musim libur, bahkan resistensinya tinggi kepada petugas kami. Mereka justru komplain, 'Pak ini kan hari libur Pak, kalau Bapak ke mal, saya cuma bisa melihat ini'," ujar Indra menirukan keluhan warga.

Meski demikian, Indra menegaskan bahwa personelnya akan terus mengimbau masyarakat untuk tidak mendekat. Polisi telah mendirikan pos pengamanan berlapis di empat titik, dua di sisi kiri dan dua di sisi kanan area TPA, untuk mencegah warga masuk ke zona berbahaya.

Wamen LH: Ini Bukan Hiburan, Asap Berbahaya bagi Kesehatan

Wamen LH Diaz Faisal Malik Hendropriyono secara tegas meminta masyarakat sekitar tidak menjadikan musibah kebakaran ini sebagai tontonan. "Kami mohon masyarakat sekitar agar kebakaran TPA ini tidak menjadi tontonan warga. Ini bukan hiburan, tidak perlu ada yang ditonton," ujar Diaz.

Ia menjelaskan bahwa kepulan asap dari tumpukan sampah yang terbakar mengandung zat berbahaya. Semakin dekat warga dengan lokasi, semakin tinggi risiko terpapar berbagai penyakit pernapasan hingga ancaman kesehatan jangka panjang.

"Semakin warga mendekat, semakin besar kemungkinan terkena penyakit, termasuk ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan potensi karsinogenik. Tadi saya minta Kapolres untuk memberikan imbauan agar menjauhi area TPA yang sedang mengalami bencana ini," tegas Diaz.

Risiko Ledakan Gas Metana di TPA Jatiwaringin

Diaz juga memperingatkan bahwa kebakaran di TPA Jatiwaringin memiliki karakteristik yang lebih berbahaya dibandingkan kebakaran lahan gambut. Di permukaan, api mungkin tampak padam, tetapi di kedalaman sampah masih tersimpan bara api dan gas metana (CH4) yang mudah meledak.

"Kalau gambut mungkin hanya potensinya terbakar karena tidak ada gas seperti di sini. Kalau di sini bisa lebih eksplosif karena ada kandungan CH4-nya. Jadi penanganannya harus lebih serius, apalagi sekarang ada fenomena El Nino," jelas Diaz.

Berdasarkan hasil analisa thermal drone dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), area yang terdampak kebakaran saat ini telah mencapai 15 hektare dari total 33 hektare luas TPA. Sementara data dari mobile monitoring system KLH menunjukkan angka polusi udara (PM 2.5 dan PM 1.0) di lokasi sempat menyentuh level 1.000, jauh melampaui ambang batas sehat di angka 15,5.

"Baku mutu udara yang dikatakan baik itu 15,5, sedangkan sedang berada di angka 15,5-55,5. Jika melewati itu, statusnya tidak sehat dan membahayakan. Angkanya sempat menyentuh 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," ucapnya.

Diaz menyebut radius bahaya asap ini mencapai 1,7 hingga 2,1 kilometer, tergantung pada arah angin. Hingga saat ini, kebakaran di TPA Jatiwaringin belum padam sejak Selasa (30/6/2026), sehingga Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menetapkan status tanggap darurat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga