KAJANG, KOMPAS.com - Derce Jush (37), seorang ibu tunggal asal Flores, Indonesia, menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan di Kajang, Malaysia, bersama enam anaknya. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ia harus berjuang seorang diri setelah suaminya, Nur Azman Baharudin, meninggal dunia sekitar setahun lalu.
Perjuangan Derce Jush di Malaysia
Derce tidak hanya menghadapi kesulitan ekonomi, melainkan juga persoalan serius pada pendidikan dan administrasi anak-anaknya. Sebagaimana diberitakan Harian Metro Malaysia, Senin (1/6/2026), enam anaknya yang berusia antara 6 hingga 16 tahun tidak bersekolah, bahkan tiga di antaranya belum memiliki dokumen pengenal diri.
Kehidupan Derce sehari-hari dihabiskan untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Ia bekerja serabutan, namun penghasilannya tidak menentu. Kondisi ini membuatnya kesulitan untuk menyekolahkan anak-anaknya dan mengurus dokumen kependudukan mereka.
Dampak Kurangnya Dokumen
Tiga anak Derce yang belum memiliki dokumen pengenal diri menghadapi kendala serius dalam mengakses layanan publik, termasuk pendidikan dan kesehatan. Tanpa dokumen, mereka terancam tidak dapat memperoleh hak-hak dasar sebagai warga negara. Derce mengaku sudah berusaha mengurus dokumen tersebut, namun terkendala biaya dan prosedur yang rumit.
Anak-anak Derce yang paling besar, berusia 16 tahun, sudah seharusnya duduk di bangku SMA, namun ia putus sekolah sejak beberapa tahun lalu. Sementara adik-adiknya juga tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Derce berharap ada bantuan dari pemerintah Indonesia atau pihak swasta untuk membantu anak-anaknya mendapatkan pendidikan dan dokumen resmi.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Meskipun hidup dalam kesulitan, Derce tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Ia berharap suatu hari nanti nasib keluarganya bisa berubah. “Saya hanya ingin anak-anak saya bisa sekolah dan punya masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Kisah Derce Jush menjadi gambaran nyata perjuangan para pekerja migran Indonesia di luar negeri, terutama mereka yang kehilangan pasangan dan harus menghidupi anak-anak seorang diri. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat meringankan beban Derce dan keluarga.



