Akademisi Indonesia Bawa Semangat Berkelanjutan ke Forum Dunia
Akademisi Indonesia Bawa Semangat Berkelanjutan ke Forum Dunia

Fatma Ulfatun Najicha Wakili Indonesia di KTT Pemuda Eropa 2026

Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya di panggung internasional. Akademisi dan Pakar Hukum Indonesia, Fatma Ulfatun Najicha, dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sekaligus Ketua Pusat Studi Hukum Kebijakan Publik dan Energi LPPM UNS, terpilih sebagai delegasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemuda Eropa 2026 yang berlangsung pada 5–8 Juni 2026 di Jenewa, Swiss. Ia lolos seleksi kompetitif untuk mewakili Indonesia.

Platform Strategis untuk Kolaborasi Global

Keikutsertaan Fatma bukan sekadar representasi individu, melainkan membawa semangat dan gagasan Indonesia dalam forum yang mempertemukan 210 delegasi terpilih dari berbagai negara. Forum ini menjadi ruang strategis bagi pemimpin muda dunia untuk membangun dialog, memperkuat diplomasi, dan merumuskan solusi atas tantangan global melalui kolaborasi lintas negara. "Forum ini merupakan platform strategis untuk membangun dialog, memperkuat kolaborasi internasional, mengembangkan kapasitas kepemimpinan, sekaligus merajut persahabatan lintas bangsa demi menghadirkan solusi bagi tantangan global," ujar Fatma.

Isu-Isu Strategis yang Dibahas

Selama empat hari, para delegasi mengikuti sesi strategis yang membahas isu-isu penting dunia, seperti Public Policy (Kebijakan Publik), Diplomacy (Diplomasi), Global Governance (Tata Kelola Global), hingga Negotiation Leader Role in Global Impact, yang menitikberatkan pada kepemimpinan dalam negosiasi untuk dampak global berkelanjutan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ecological Justice sebagai Fondasi Pembangunan

Fatma juga mengangkat urgensi Ecological Justice (Keadilan Ekologis) sebagai fondasi penting dalam pembangunan global yang berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa tantangan dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, politik, dan keamanan, tetapi juga dipengaruhi oleh menurunnya kualitas lingkungan akibat perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, dan degradasi ekosistem. "Krisis lingkungan bukan lagi persoalan masa depan, tetapi kenyataan yang sedang kita hadapi hari ini. Karena itu, Ecological Justice harus menjadi pijakan dalam setiap proses pengambilan kebijakan," tegas Fatma. "Dunia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan kepentingan pembangunan dengan perlindungan lingkungan hidup demi keberlangsungan generasi yang akan datang," tambahnya.

Rekam Jejak Akademik dan Riset

Pandangan tersebut sejalan dengan rekam jejak akademik Fatma di bidang Kebijakan Publik, Hukum Lingkungan, dan Energi Berkelanjutan. Melalui berbagai penelitian dan publikasi ilmiah, ia konsisten mengembangkan konsep kebijakan yang mengintegrasikan aspek hukum, tata kelola lingkungan, dan transisi energi berkelanjutan sebagai respons terhadap perubahan iklim. "Forum internasional seperti KTT Pemuda Eropa menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan perspektif Ecological Justice sebagai bagian dari solusi global," ungkap Fatma.

Kolaborasi dan Jejaring Internasional

Fatma meyakini bahwa kolaborasi lintas negara, penguatan regulasi, inovasi kebijakan, dan pengembangan kepemimpinan menjadi kunci dalam membangun tata kelola dunia yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. "Lebih dari sekadar pertukaran gagasan, forum ini menjadi momentum untuk membangun jejaring internasional, memperkuat kepercayaan antarbangsa, serta menumbuhkan komitmen kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan global," ujarnya.

Kontribusi Akademisi Indonesia dalam Diplomasi Global

Partisipasi Fatma menunjukkan bahwa akademisi Indonesia tidak hanya berkontribusi melalui pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara aktif dalam diplomasi global dengan menawarkan gagasan ilmiah yang relevan. Keikutsertaan ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu menjadi bagian dari solusi atas tantangan global. "Dari Jenewa, semangat kolaborasi, kepemimpinan, dan pengabdian dibawa pulang sebagai energi baru untuk memperkuat pembangunan nasional sekaligus memperkokoh posisi Indonesia dalam percaturan internasional," kata Fatma. "Membawa Merah Putih ke forum dunia bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga amanah untuk menyuarakan nilai-nilai Indonesia, membangun jembatan kolaborasi antarbangsa, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masa depan dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera," tutup Dr. Fatma.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga