Raja Charles III tidak akan tinggal di Istana Buckingham setelah program renovasi yang memakan waktu 10 tahun selesai tahun depan, kata para pejabat istana pada hari Kamis (25/06). Raja Charles dan Ratu Camilla sebaliknya akan tetap tinggal di Clarence House, kediaman lamanya di London yang berdekatan dengan istana tersebut.
Istana Buckingham Tetap Pusat Seremonial
James Chalmers, bendahara dan pengelola dana pribadi Raja (Keeper of the Privy Purse), mengatakan bahwa Istana Buckingham akan tetap menjadi lokasi utama untuk acara seremonial dan kegiatan resmi, termasuk untuk menyambut tamu kehormatan dari luar negeri. "Istana ini tetap dan akan tetap menjadi pusat kerajaan, permata mahkota dari bangunan-bangunan nasional kita," ungkap Chalmers kepada para wartawan.
Istana Buckingham telah menjadi kediaman utama penguasa Inggris di London selama hampir dua abad, sejak Ratu Victoria bertakhta pada tahun 1837. Bangunan dengan 775 kamar ini tidak hanya berfungsi sebagai kediaman resmi raja atau ratu, tetapi juga sebagai ruang kantor bagi birokrasi kerajaan dan menyelenggarakan jamuan makan malam kenegaraan yang mewah bagi para pemimpin luar negeri yang berkunjung.
Renovasi Besar-Besaran Senilai Rp8,75 Triliun
Istana tersebut saat ini sedang menjalani renovasi besar-besaran. Renovasi dimulai pada tahun 2017 dan diperkirakan akan selesai tahun depan, dengan proyeksi total biaya mencapai 369 juta pound sterling (sekitar Rp 8,75 triliun). Proyek ini mencakup penggantian kabel listrik, pipa air, dan sistem pemanas yang sudah tua. Sekitar 700.000 orang mengunjungi bangunan tersebut setiap tahunnya. Pihak berwenang mengatakan akan ada akses publik yang lebih luas tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Charles Merilis Laporan Pajak Pribadi
Pada hari Kamis (25/06), Charles juga mengumumkan kepada publik rincian pajak pribadinya yang dibayarkan kepada pemerintah. Pengumuman ini adalah yang pertama sejak Charles naik takhta pada tahun 2022. Pejabat terkait mengungkapkan bahwa Raja membayar pajak sebesar 12,9 juta pound sterling (sekitar Rp 305,73 miliar) pada tahun 2024/2025. Angka tersebut menempatkan Raja ke dalam daftar 100 pembayar pajak terbesar di Inggris.
Berdasarkan hukum, Raja Inggris tidak diwajibkan untuk membayar pajak penghasilan, pajak atas keuntungan modal (capital gains), atau pajak warisan. Hal ini juga dilakukan oleh Ibu Charles, Ratu Elizabeth II, secara sukarela setelah tahun 1993 tanpa mengungkap nominalnya.
Penghasilan Pribadi dan Sovereign Grant
Raja Inggris menerima dana dari pemerintah yang dikenal sebagai Sovereign Grant untuk membayar gaji staf, memelihara istana-istana kerajaan, dan biaya perjalanan. Namun Charles, seperti halnya semua penguasa Inggris sejak tahun 1399, juga menerima jutaan pound sterling sebagai pendapatan pribadi dari kawasan tanah yang sangat luas, Duchy of Lancaster, serta dari berbagai investasi miliknya yang lain. Sementara itu, Pangeran William, sang pewaris takhta, membayar pajak sebesar 7,76 juta pound sterling (sekitar Rp 183,91 miliar) pada tahun 2024/2025.
Reputasi Kerajaan di Tengah Kontroversi
Pengumuman ini muncul di tengah merosotnya reputasi keluarga kerajaan setelah berbulan-bulan diwarnai berbagai berita memalukan tentang hubungan antara mantan Pangeran Andrew, yang kini dikenal sebagai Andrew Mountbatten-Windsor, dengan terpidana pelaku kejahatan seksual yang telah divonis bersalah, Jeffrey Epstein.



