Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa negosiasi langsung dengan Israel bertujuan untuk mengakhiri perang antara Tel Aviv dan kelompok Hizbullah. Aoun mengingatkan bahwa pihak yang menyeret Lebanon ke dalam perang adalah pihak yang melakukan "pengkhianatan". Pernyataan Aoun itu merupakan sindiran untuk Hizbullah yang pemimpinnya, Naim Qassem, menyebut negosiasi langsung dengan Israel merupakan "dosa besar".
Pertemuan Langsung Lebanon-Israel
Duta Besar Lebanon dan Israel melakukan dua kali pertemuan di Washington DC, Amerika Serikat (AS), dalam beberapa pekan terakhir. Pertemuan itu menjadi yang pertama antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir. Hizbullah secara tegas menolak negosiasi langsung tersebut. Setelah putaran pertama pembicaraan itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata 10 hari yang diberlakukan mulai 17 April, kemudian mengumumkan perpanjangan selama tiga minggu setelah putaran kedua digelar pekan lalu.
"Tujuan saya adalah untuk mengakhiri situasi perang dengan Israel, serupa dengan perjanjian gencatan senjata (tahun 1949)," kata Aoun dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Selasa (28/4/2026). Dia merujuk pada perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri pertempuran kedua negara pada tahun 1949 silam, setelah perang Arab-Israel tahun 1948. "Apakah perjanjian gencatan senjata itu suatu penghinaan? Saya jamin bahwa saya tidak akan menerima kesepakatan yang memalukan," tegas Aoun.
Sindiran untuk Hizbullah
Aoun kemudian melontarkan pernyataan bernada sindiran untuk Hizbullah, yang didukung Iran. "Apa yang kita lakukan bukanlah pengkhianatan. Sebaliknya, pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka yang membawa negara mereka ke dalam perang untuk mencapai kepentingan asing," ucapnya. Aoun menghadapi kritikan keras dari Hizbullah dan para pendukungnya, yang mengatakan bahwa dorongannya untuk bernegosiasi langsung dengan Israel tidak memiliki konsensus dari berbagai komunitas di Lebanon.
Negosiasi langsung ini menandai poin perselisihan terbaru setelah pemerintah Lebanon memutuskan untuk melucuti senjata Hizbullah tahun lalu dan melarang aktivitas militer kelompok itu pada Maret. "Beberapa pihak ingin meminta pertanggungjawaban kami atas keputusan untuk melakukan negosiasi dengan alasan bahwa tidak ada konsensus nasional," ujarnya. "Pertanyaan saya kepada mereka adalah: ketika Anda berperang, apakah Anda terlebih dahulu memperoleh konsensus nasional?" tanya Aoun kepada Hizbullah.
Dampak Perang di Lebanon
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah sejak 2 Maret lalu, setelah Hizbullah melancarkan serangan roket terhadap wilayah Israel untuk membalas kematian mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel. Sejak saat itu, rentetan serangan udara Israel telah menewaskan lebih dari 2.500 orang dan menyebabkan lebih dari 7.750 orang lainnya luka-luka. Gempuran Tel Aviv juga memaksa lebih dari 1,6 juta orang di Lebanon mengungsi. Israel juga mengerahkan pasukan darat ke Lebanon bagian selatan.



