Trump Beri Ultimatum 10-15 Hari ke Iran untuk Capai Kesepakatan Nuklir
Trump Ultimatum Iran 10-15 Hari Capai Kesepakatan Nuklir

Trump Beri Ultimatum 10-15 Hari ke Iran untuk Capai Kesepakatan Nuklir

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan tenggat waktu 10 hingga 15 hari kepada Iran untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Dalam pernyataan yang disampaikan kepada para jurnalis di dalam pesawat Air Force One pada Kamis (19/2), Trump menegaskan bahwa rentang waktu tersebut merupakan "batas maksimal" yang ia berikan kepada Teheran.

"Kita akan mendapatkan kesepakatan, atau itu akan menjadi hal yang tidak menguntungkan bagi mereka," ujar Trump. Ia sebelumnya juga menyampaikan tenggat serupa di Washington, dengan menyatakan, "Mungkin kita akan membuat kesepakatan [dengan Iran]. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan," saat berpidato dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian yang menuai kontroversi.

Ancaman "Hal-Hal Buruk" dan Pengerahan Militer AS

Trump memperingatkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika tidak tercapai kesepakatan nuklir yang substansial. Ia menekankan bahwa Iran tidak boleh terus mengancam stabilitas kawasan dan harus dicegah untuk memiliki senjata nuklir. Sementara itu, Iran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Di tengah ketegangan, Amerika Serikat mengirimkan kekuatan kapal perang dan pesawat tempur terbesar ke Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta tiga kapal perusak telah berada di kawasan sejak Januari, dengan sekitar 5.700 personel. USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, sedang menuju wilayah tersebut, dikawal tiga kapal perusak dan membawa lebih dari 5.000 personel.

Dengan pengerahan ini, total kehadiran Angkatan Laut AS di kawasan mencapai 14 kapal, menurut Associated Press. AS juga memindahkan sejumlah pesawat tempur, termasuk F-15, F-16, dan F-22, ke Eropa dan Timur Tengah, serta memiliki beberapa skuadron F-35 di wilayah itu. Lebih dari 100 pesawat tanker pengisian bahan bakar udara dilaporkan bergerak ke wilayah tersebut.

Analisis dan Peringatan dari Mantan Pejabat AS

Matthew Hoh, mantan kapten Marinir AS dan pejabat Departemen Luar Negeri yang kini bergabung dengan Center for International Policy, menilai pengerahan ini bukan sekadar simbolis. "Saya pikir ini serius, ini bukan gertakan. Ini bukan untuk pertunjukan. Ini bukan aksi sensasional," katanya. Ia menekankan bahwa jenis kekuatan yang ditempatkan Amerika Serikat di Timur Tengah adalah kekuatan yang mampu melaksanakan operasi yang ingin dilakukan oleh pihak-pihak di Washington, DC.

Hoh juga memperingatkan dampaknya terhadap diplomasi nuklir Iran, dengan menyoroti sejarah konflik AS-Iran, termasuk penarikan sepihak kesepakatan nuklir oleh pemerintahan Trump pada 2018, sabotase, pembunuhan ilmuwan, dan serangan siber. "Semua hal itu harus diperhitungkan dan membawa Iran pada pertanyaan, bagaimana mereka bisa mempercayai Amerika," ujarnya.

Respon Tegas Iran dan Latihan Militer dengan Rusia

Iran memperingatkan akan merespons secara "tegas" jika menghadapi agresi militer. Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Misi Tetap Iran untuk PBB menyatakan akan menganggap pangkalan, fasilitas, dan aset milik "kekuatan yang bermusuhan" di kawasan sebagai target sah jika diserang. Iran menilai retorika Trump "mengisyaratkan risiko nyata terjadinya agresi militer".

Di tengah ketegangan, Iran pada Kamis (19/2) menggelar latihan militer tahunan bersama Rusia, termasuk latihan tembak langsung di Teluk Oman dan Selat Hormuz. Latihan ini bertujuan meningkatkan koordinasi operasional serta pertukaran pengalaman militer, dan telah digelar sejak 2019. Perairan tersebut merupakan jalur pelayaran vital bagi Iran, Irak, dan kawasan Teluk.

Dampak pada Harga Minyak dan Situasi Kawasan

Harga minyak melanjutkan kenaikan tajam dari Rabu (18/2) ke perdagangan Kamis di Asia, Eropa, hingga pembukaan pasar Amerika Serikat. Minyak mentah Brent kembali menembus US$70 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli tahun lalu, mencapai US$71,57 per barel, naik 1,7% dalam sehari. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2% menjadi US$66,37 per barel, level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Meski belum membuat konflik tak terhindarkan, situasi menunjukkan peningkatan ketegangan di kawasan. Dalam setahun terakhir, pemerintahan teokratis Iran menghadapi tekanan berat, mulai dari konflik singkat dengan Israel, serangan AS ke target program nuklir, hingga gelombang protes domestik yang ditindak keras oleh otoritas.