Turki Prihatin Eskalasi Perang Rusia-Ukraina dan Serangan ke Warga Sipil
Turki Prihatin Eskalasi Perang Rusia-Ukraina

Turki Prihatin dengan Eskalasi Serangan Rusia di Ukraina

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya serangan terhadap warga sipil Ukraina dalam kunjungannya ke Rusia baru-baru ini. Ia menegaskan kesiapan Turki untuk menjadi mediator antara Moskow dan Kyiv guna mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun dan menewaskan ratusan ribu orang.

“Eskalasi baru-baru ini dalam perang Ukraina dan bahaya perluasan geografisnya merupakan sumber kekhawatiran serius,” ujar Fidan dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, sebagaimana dilansir AFP pada Rabu (17/6/2026).

“Secara khusus, peningkatan serangan terhadap target di belakang garis depan dan serangan yang mengancam keselamatan navigasi di Laut Hitam berdampak pada kepentingan pihak ketiga. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah deeskalasi,” tambahnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan ini disampaikan sehari setelah serangan rudal dan drone Rusia menewaskan 11 orang di berbagai wilayah Ukraina, termasuk merusak sebuah katedral di pusat Kota Kyiv.

Ukraina merespons dengan melancarkan serangan terhadap kilang minyak di pinggiran Moskow. Serangan ini bertujuan untuk menghantam pendapatan minyak Rusia yang vital, yang menurut Kyiv digunakan untuk mendanai perang.

Turki telah menjadi tuan rumah beberapa putaran perundingan antara delegasi Rusia dan Ukraina yang berupaya mengakhiri konflik, namun belum ada satu pun yang membuahkan hasil signifikan.

Presiden Rusia Vladimir Putin tetap berpegang pada tuntutan teritorial dan politik yang keras, yang oleh Kyiv dianggap sebagai bentuk penyerahan diri. Ia juga menolak sejumlah permintaan untuk bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Sekutu Kyiv berkumpul di Prancis pada Selasa lalu dalam KTT G7, di mana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendesak Moskow untuk “membuat kesepakatan” guna mengakhiri perang.

Keputusan Rusia untuk melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022 telah memicu konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Sebagian besar wilayah Ukraina timur dan selatan hancur, jutaan orang mengungsi, dan puluhan ribu warga sipil tewas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga