Komnas HAM: 15 Warga Tewas di Papua Tengah Salah Satu Peristiwa Terberat 2026
15 Warga Tewas di Papua Tengah, Peristiwa Terberat 2026

Komnas HAM: 15 Warga Tewas di Papua Tengah Salah Satu Peristiwa Terberat 2026

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberikan perhatian penuh terhadap insiden tewasnya 15 warga sipil dalam kontak tembak antara kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan TNI di Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Komnas HAM menyatakan kasus tersebut sebagai salah satu peristiwa terberat pada tahun 2026.

“Ini menjadi atensi kami dengan meninggalnya 15 orang. Peristiwa Puncak ini salah satu peristiwa yang terberat yang kita dapatkan di 2026 ini, saya kira ini berat sekali,” kata Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Komnas HAM pada Kamis (24/4/2026).

Kesulitan Menembus Distrik Konflik

Saurlin mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya kesulitan untuk memasuki dua distrik yang menjadi lokasi konflik. Namun, Komnas HAM telah berhasil berkomunikasi dengan para korban yang berhasil keluar dari distrik tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Bisa juga kami sampaikan komunikasi dengan teman-teman kita di lapangan bahwa kita belum bisa menembus distrik-distrik yang terjadi konflik, tetapi orang-orang yang keluar distrik sudah kita interview, kita sudah berbicara dengan para korban sehingga kita memiliki keyakinan,” ujar Saurlin.

Temuan Sementara dan Upaya Pendalaman

Saurlin menjelaskan bahwa pihaknya terus mendalami peristiwa ini dan telah memiliki temuan sementara. “Ketika peristiwa ini terjadi kami sudah memiliki indikasi bahwa adanya operasi TNI di sana berimplikasi terhadap terjadinya peristiwa itu dan tentu harus kita dalami juga penyebab meninggal satu per satu,” tuturnya.

Tim Komnas HAM saat ini masih berupaya untuk masuk ke dua distrik konflik. Saurlin berharap konflik segera berakhir agar tidak ada lagi korban jiwa. “Kita masih menunggu momen tepat untuk masuk ke dua distrik yang bergejolak saat ini, mestinya ini harus segera diakhiri sehingga menghentikan korban dari kedua belah pihak, kita mendapatkan informasi ada beberapa TNI jadi korban sehingga ini mengorbankan semua, mengorbankan kemanusiaan,” ungkapnya.

Tragedi Kemanusiaan

Lebih lanjut, Saurlin menyatakan bahwa jatuhnya korban belasan warga sipil di Puncak Papua merupakan tragedi kemanusiaan. Insiden ini mengakibatkan 15 warga sipil tewas dan 7 orang lainnya mengalami luka-luka. “Kita harus mengingat peristiwa Puncak ini sebagai peristiwa tragedi kemanusiaan dengan meninggalnya 15 orang ini dan tujuh orang luka-luka, kita berharap tidak ada lagi korban berikutnya,” tuturnya.

Pernyataan Menteri HAM

Sebelumnya, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengonfirmasi bahwa 15 warga sipil tewas dalam insiden tersebut. Pigai menyebut data itu diperoleh setelah pihaknya mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Puncak. “Kami dapatkan 15 orang meninggal dunia akibat serangan di Kembru tersebut,” kata Pigai di Kantor Kementerian HAM, Jakarta.

Pigai juga mengungkapkan bahwa 7 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. “Kemudian 7 orang luka-luka, dan mereka yang menjadi korban ini sedang dalam pendalaman, pencarian data, fakta, informasi, dan bisa mengalami perkembangan lebih lanjut,” lanjutnya.

Status Tanggap Darurat Keamanan

Dilansir dari detikSulsel, insiden kontak tembak antara OPM dan TNI terjadi pada 14 April 2026. Peristiwa ini menyebabkan status wilayah Puncak ditetapkan sebagai tanggap darurat keamanan selama 14 hari untuk mempercepat evakuasi dan pemulihan. “Dalam masa tanggap darurat, fokus utama kami adalah mengidentifikasi seluruh korban, baik yang luka maupun yang meninggal dunia,” kata Penjabat Sekda Puncak, Nenu Tabuni, dalam keterangannya pada Minggu (19/4).

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga